PEDOMANRAKYAT, MAKASSAR – Semangat untuk memberikan pelayanan terbaik bagi warga seolah tak pernah padam dari nadi kepemimpinan Lurah Kunjung Mae, Syafruddin, SE., MM. Setelah sukses menggerakkan agenda "Jumat Bersih" di Taman Gajah, ia kembali menunjukkan aksi nyata di lapangan pada hari berikutnya. Langkah ini diambil bukan tanpa alasan. Meningkatnya intensitas hujan di awal Januari 2026 menuntut kesiapsiagaan penuh agar kenyamanan warga tidak terganggu oleh masalah klasik perkotaan, yakni genangan air yang muncul secara tiba-tiba.
Syafruddin menyisir titik-titik vital yang menjadi wajah kelurahannya. Dimulai dari Jalan Cenderawasih, ia memantau setiap lekuk saluran air demi memastikan tidak ada hambatan yang menghalangi laju aliran menuju pembuangan akhir.
Aksi berlanjut ke Jalan H. Bau, kawasan yang dikenal sebagai salah satu jalur ikonik di Makassar. Di sini, sang Lurah memastikan kebersihan lingkungan tetap terjaga pada level tertinggi demi mempertahankan estetika wilayah yang menjadi kebanggaan masyarakat.
Tak berhenti di situ, pemantauan berlanjut ke Jalan Rajawali. Fokusnya tetap sama: memastikan sistem drainase di area padat mobilitas ini tetap "bernapas" lega di tengah tingginya curah hujan yang mengguyur wilayah Makassar akhir-akhir ini. Aksi sigap ini merupakan representasi dari program "Muliakan Makassar" yang diusung oleh Wali Kota Makassar. Syafruddin ingin membuktikan bahwa kehadiran pemerintah di tengah warga bukan sekadar formalitas, melainkan tindakan nyata yang membawa solusi.
Dalam setiap langkahnya, ia selalu menyisipkan edukasi penting bagi masyarakat. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan menjaga lingkungan sangat bergantung pada kolaborasi aktif antara pemerintah kelurahan dan seluruh lapisan warga. Syafruddin menekankan pentingnya warga melakukan pengerukan sedimen lumpur secara mandiri di sekitar hunian mereka. Hal ini dianggap sebagai langkah kecil yang berdampak besar dalam menjaga kedalaman fungsional saluran air.
Selain itu, ia memberikan imbauan teknis agar warga tidak menutup lubang kontrol drainase secara permanen. Hal ini dimaksudkan agar akses pembersihan darurat oleh petugas dapat dilakukan dengan cepat saat terjadi penyumbatan. Manajemen sampah rumah tangga juga menjadi sorotan utamanya. Ia meminta warga untuk lebih disiplin dalam membuang sampah pada tempatnya, agar tidak ada material plastik yang hanyut dan mengunci laju air di dalam selokan.
Lurah juga mendorong inisiatif warga untuk membuat biopori atau lubang resapan di pekarangan rumah. Langkah ini diharapkan mampu membantu menyerap air hujan ke dalam tanah, sekaligus mengurangi beban debit air di saluran utama. Baginya, sinkronisasi antara aksi Satgas Kebersihan dan kepatuhan warga dalam menjaga aturan lingkungan adalah kunci sukses. Tanpa kesadaran kolektif, infrastruktur secanggih apa pun akan sulit menghadapi tantangan cuaca ekstrem.
Dedikasi yang ditunjukkan oleh Lurah Kunjung Mae ini menjadi inspirasi bagi banyak pihak. Ia membuktikan bahwa tanggung jawab terhadap kebersihan wilayah adalah tugas yang harus dijalankan dengan konsistensi tinggi setiap harinya. Kegiatan pemantauan ini pun berakhir dengan catatan evaluasi mendalam. Syafruddin berkomitmen akan terus berada di garda terdepan guna menjamin wilayah Kunjung Mae tetap menjadi kawasan yang asri, nyaman, dan terbebas dari ancaman genangan. (Ansar)


