PEDOMANRAKYAT, JENEPONTO – Hening itu turun perlahan, menutup ruang dan waktu. Di antara napas yang tertahan, Rektor INTI Jeneponto, Prof. Maksud Kasim, memimpin hening cipta. Bukan hanya untuk mengenang para pahlawan, tetapi terkhusus pahlawan pendidikan—alm. Rivai Pakkihi.
Pada saat yang sama, duka itu terasa lebih dekat, lebih personal, sebab satu nama lain baru saja berpulang: Dr. Ady Sumady Anwar Rivai, sosok yang selama ini mengabdikan diri sebagai sekretaris dan penjaga napas perjuangan lembaga pendidikan yang dirintis keluarganya.
Dr. Ady Sumady menghembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Pertamina Sudiang, Makassar, Sabtu (27/9). Kepergiannya meninggalkan sunyi yang panjang—sunyi yang tidak sekadar diam, tetapi penuh makna kehilangan.
Di atas mimbar pada acara Dies Natalis XXXV dan Wisuda Kempat INTI di Ruang Pola Panrannuangta Jeneponto Minggu, 11/01/2026, Lukman mengirimkan doa. Tak banyak kata yang terucap, namun rasa kehilangan itu nyata. Doa-doa mengalir lirih, menyatu dengan kenangan tentang sosok Ady: tenang, tekun, dan setia pada jalan pengabdian.
Suasana semakin syahdu ketika Andi Ria Anriani mendendangkan sebuah lagu. Bukan lagu biasa. “Titip Rindu Buat Ayah” karya Ebiet G. Ade mengalun pelan, seperti surat yang tak sempat terkirim.

