Esai Budaya : Tedong Coko

Rusdy
Rusdy 279 Pembaca
2 Menit baca

Follow Pedomanrakyat.co.id untuk mendapatkan informasi terkini.

Klik WhatsApp Channel  |  Google News

Oleh : Mahrus Andis, Budayawan, Kritikus Sastra, dan Mubalig

Di kampung saya, di belakang rumah orang tua, ada muara sungai yang membentang dari Barat ke Selatan. Di antara muara dan bibir pantai, di situlah tempat saya dan teman-teman seusia sering bermain pasir, berkejaran sambil menanti kedatangan rombongan kerbau melintas menuju kandang. Biasanya kerbau kembali ke kandang menjelang Magrib.

Puncak kegembiraan ketika rombongan kerbau-kerbau itu sudah melintas di tempat kami menunggu. Saya dan teman-teman segera mencari kerbau tunggangan masing-masing.

Tedong Coko, kerbau yang ujung tanduknya menghadap ke bawah adalah pilihan saya. Kerbau seperti ini biasanya tidak liar, tenang, penurut, namun kurang peduli. Karena wataknya itulah sehingga Tedong Coko sering disifatkan kepada manusia yang suka bermasabodoh.

1
2TAMPILKAN SEMUA
Baca juga :  Prof. Dr. Azra Wafat, Menag : Indonesia Berduka Kehilangan Intelektual Kaliber Dunia
Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar
error: Content is protected !!