AB Iwan Azis, Kunjungi Warkop Puluhan Tahun Tetapi Tidak Ngopi

Ramzy 350 Pembaca
10 Menit baca

Oleh: Rusdin Tompo (Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan)

AB Iwan Azis dan warung kopi adalah kisah yang berkelindan jauh. Sebelum bisnis warkop tumbuh menjamur seperti sekarang di metropolitan Makassar, ia sudah kerap bertandang di kedai yang menyediakan minuman berkafein itu.

Warkop sebagai Ruang Sosial

Warkop bagi Iwan Azis layaknya ruang sosial tempat ia bertemu, bersilaturahmi, berdiskusi dengan sahabat dan kolega. Profesinya yang dinamis dengan jejaring luas ke berbagai kalangan menuntutnya punya pilihan tempat yang cozy. Dan itu adalah warkop.

Namun, sungguh mengejutkan ketika keluar pengakuan dari Ketua ASPRI (Asosiasi Pengusaha Reklame Indonesia) itu bahwa dia baru sekira 3 bulan terakhir minum kopi.

Selama ini, setiap kali ke warkop, rupanya Supervisor GPBSI (Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia) ini hanya memesan teh susu beruang plus kental manis. Sekretaris PERFIKI (Pertunjukan Film Keliling Indonesia) itu sama sekali tidak pernah memesan kopi.

“Nanti setelah tua, dalam usia hampir 80 tahun baru ada keberanian minum kopi,” ungkap pria kelahiran Desa Ujungnge, Kecamatan Tanasitolo, Kabupaten Wajo, Provinsi Sulawesi Selatan, 11 Agustus 1946 itu.

Pengakuan itu disampaikannya dalam obrolan kami di Warkop Azzahrah, Jalan Abdullah Daeng Sirua, Makassar, Kamis, 5 Februari 2026. Katanya, dia mulai minum kopi setelah membaca artikel tentang sejarah kopi dan manfaat minum kopi.

Padahal sebagai mantan Ketua FKPM (Forum Kemitraan Polisi dan Masyarakat), Ketua LPM (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat), dan Ketua RW (Rukun Warga) puluhan tahun, Iwan Azis suka menjadikan warkop sebagai tempat pertemuannya.

Begitupun untuk urusan DMI (Dewan Masjid Indonesia) Kecamatan Panakkukang, di mana dia ketuanya, warkop menjadi tempat mereka ngumpul membahas organisasi dan umat.

Ketika ngumpul dengan teman-teman wartawan pun, warkop akan jadi pilihan utama mereka bertemu. Namun, bukan kopi yang ada dalam daftar pilihannya.

Maka, ketika dia pulang dari Medan, menghadiri Festival Film Indonesia (FFI), membawa oleh-oleh kopi, semuanya dibagi-bagikan ke orang.

Begitupun saat dari Lampung untuk kegiatan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), oleh-oleh berupa kopi hanya diberikan kepada orang lain.

Dari Yaman ke Batavia lalu Jadi Java Coffee

Iwan Azis lalu membagikan kisah yang menceritakan seorang penggembala kambing mendapati hewan ternaknya menjadi sangat aktif dan energik setelah makan buah ceri kopi.

“Ternyata awal ceritanya dari biji yang dimakan kambing,” katanya sambil tersenyum.

Legenda yang hidup di dataran tinggi Ethiopia (Abyssina) sekira tahun 850 Masehi itu, memang menjadi titik awal kehadiran kopi. Meski begitu, kopi kemudian berkembang dan populer di Yaman, sebagai pusat pengolahan.

Kopi dibudidayakan secara komersial, tak lepas dari kebutuhan kaum sufi. Mereka perlu ngopi agar bisa lebih konsentrasi saat ibadah malam.

Karena itu, jangan heran, bila tradisi minum kopi untuk melek begadang masih berlangsung hingga kini.

Bedanya, dahulu, kaum sufi ngopi biar lebih tahan beribadah, sedangkan sekarang orang minum kopi begadang buat nonton sepak bola atau cuma untuk main kartu domino hehehe.

Dalam sejarahnya, Pelabuhan Al-Makha atau Mocha di Yaman menjadi pusat perdagangan utama kopi pada abad ke-15 hingga abad ke-17. “Mocha” sinonim untuk kopi berkualitas tinggi.

Dari Yaman lantas menyebar secara internasional ke Makkah, Madinah, Kairo, Damaskus, Baghdad, dan Konstantinopel. Yaman belakangan dikuasai oleh Kekaisaran Ottoman, pada abad ke-16.

Kepada Iwan Azis yang selalu mengajak ketemu untuk ngopi, saya menyampaikan bahwa tengah mempersiapkan buku bertema kopi. Sehingga artikel di media online dan tayangan terkait kopi di YouTube jadi santapan saya.

Misalnya, di salah satu kanal yang menjelajahi Wereldmuseum, Rotterdam, Belanda, ditampilkan arsip, bagaimana kopi bisa masuk Indonesia.

Di museum etnografi itu ditertulis bahwa kopi–yang dalam bahasa Belanda disebut koffie–didatangkan oleh kongsi dagang VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) ke Indonesia, tahun 1696.

Tertulis secara jujur bahwa mata-mata yang bekerja untuk VOC menyelundupkan kopi keluar dari Yaman yang, kala itu, memiliki monopoli atas perlindungan kopi.

Uji coba pertama menanam kopi di Kedawung, dekat Batavia, tahun 1696, gagal akibat bencana alam. Dilanjutkan upaya kedua, tahun 1699, Belanda kembali menanam stek kopi di berbagai tempat di Batavia dan daerah-daerah yang sekarang masuk wilayah Jawa Barat.

Hanya dalam tempo 15 tahun, tanaman kopi asal Indonesia (Hindia Belanda), mengejutkan dunia. Selain di Jawa, tanaman kopi juga ditanam di berbagai daerah di Nusantara.

Pada tahun 1711, Bupati Cianjur, Aria Wira Tanu III, mengapalkan sebanyak 4 kuintal kopi ke Amsterdam. Ekspor perdana ini langsung memecahkan rekor harga lelang di sana. Di tahun 1726, tidak kurang dari 2.145 ton kopi dari Pulau Jawa membanjiri Eropa.

1
2TAMPILKAN SEMUA
Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Exit mobile version