Di tengah suasana yang hening, sejarah singkat Kabupaten Jeneponto dibacakan oleh Rektor INTI Jeneponto, Prof. Maksud Hakim. Sejak 1 Mei 1863, daerah ini telah menapaki jalan panjang—dari masa ke masa, dari keterbatasan menuju harapan.
Namun yang paling menggugah adalah saat “10 Amanah Kunci Emas” dilantunkan oleh Fattahindi dan Bayu Dg Tompo. Setiap kalimat yang terucap seperti mengetuk kesadaran: bahwa membangun daerah tidak cukup dengan program, tetapi harus ditopang nilai, komitmen, dan integritas.
Tak hanya itu, warna budaya juga hadir kuat. ASN dan pelajar mengenakan pakaian adat secara serentak, menciptakan pemandangan yang tidak hanya indah, tetapi juga penuh makna—sebuah pengingat bahwa identitas adalah fondasi dalam melangkah maju.
Lomba taman bahagia dan lomba nyanyi berantai antar instansi pun menjadi ruang ekspresi yang berbeda. Di sana, kompetisi terasa lebih seperti kolaborasi—cerminan dari semangat A’bulosibatang itu sendiri: bersatu dalam keberagaman.
Di usia ke-163 ini, Jeneponto tidak hanya merayakan waktu yang telah berlalu. Ia sedang menegaskan arah. Bahwa persatuan, keikhlasan, dan kebahagiaan bukan sekadar nilai yang diucapkan, tetapi harus terus dihidupkan dalam setiap langkah pembangunan.
Di bawah langit yang bersahabat hari itu, Bumi Turatea seolah berbisik: perjalanan masih panjang, tetapi jika dilalui bersama, ia akan terasa lebih ringan—dan lebih bermakna. (Ardhy M Basir)
