Motivasi Andi mengikuti lomba bukan semata untuk prestasi pribadi, melainkan untuk mengangkat suara dan hak peserta didik berkebutuhan khusus. “Saya ingin membawa pulang emas untuk PGRI Gowa, bukan sebagai tanda kehebatan, tapi sebagai suara untuk anak-anak yang sering tak terdengar,” kata Andi. Ia menegaskan bahwa penghargaan tersebut akan menjadi alat advokasi untuk memperluas ruang penghormatan dan kesempatan dalam pendidikan inklusif.
Sumber wawasan praktiknya—pengalaman sebagai therapist dan kemampuan seni—membentuk pendekatan pembelajaran yang tidak hanya fokus pada penguasaan materi, tetapi juga pengembangan harga diri dan kemandirian siswa SLB. Menurut rekan sejawat, Andi kerap merancang aktivitas pembelajaran yang interaktif dan adaptif terhadap kebutuhan individual peserta didik.
Andi juga menunjukkan konsistensi karier dan kerendahan hati: dari tenaga honorer hingga berstatus ASN PPPK, perjalanan profesionalnya merefleksikan dedikasi panjang pada dunia pendidikan khusus. Keikutsertaannya dalam lomba pembelajaran bagi jenjang SLB mewakili PGRI Gowa menjadi wujud komitmen tersebut.
Dengan perpaduan keterampilan seni, pengalaman terapeutik, dan komitmen inklusif, Andi Chaerunnisa Rahman dipandang sebagai figur pendidik yang mampu merajut metode pembelajaran fungsional dan estetis. Jika berhasil meraih medali, ia berharap prestasi itu tidak hanya menambah koleksi penghargaan, tetapi juga mengangkat narasi bahwa pendidikan inklusif layak mendapat perhatian dan penghargaan yang setara.(*)
