Bara Parape yang Terancam Padam di Tepi Danau Tanjung Bunga

Ramzy 45 Pembaca
5 Menit baca

Oleh : Ardhy M Basir

​Asap beraroma khas ikan bakar berbumbu parape dan rica-rica mengepul dari deretan saung bambu di tepi Jalan Danau Tanjung Bunga, Makassar. Mulai pagi hingga malam, kawasan ini tak pernah sepi. Pengunjungnya bukan cuma warga lokal Makassar; banyak yang sengaja datang jauh-jauh dari Maros, Pangkep, hingga Takalar demi menikmati sepiring ikan segar dengan harga yang ramah di kantong—jauh lebih murah dibanding restoran megah di pusat kota.

​Namun, kehangatan di tepi danau itu kini diselimuti kecemasan yang pekat. Pemberitahuan rencana penggusuran oleh Pemerintah Kota Makassar membayang-bayang. Jika rencana itu ketuk palu, riwayat kuliner merakyat di sini akan tamat.

​Investasi yang Berubah Menjadi Jeratan Utang

​Salah satu wajah keresahan itu ada pada Daeng Tojeng. Di atas tanah tepi danau ini, ia mendirikan Saung Bambu Danau Tanjung. Bukan modal kecil bagi seorang warga biasa, Daeng Tojeng merogoh kocek hingga Rp70 juta yang ia pinjam dari bank untuk membangun usaha tersebut setahun lalu.

​Kini, saung bambu impiannya terancam tinggal nama. Bagi Daeng Tojeng dan 20 pedagang lainnya, penggusuran bukan sekadar kehilangan tempat asongan, melainkan awal dari bencana finansial.

​”Bagaimana cara kami membayar cicilan bank kalau tempat mencari nafkahnya digusur? Jelas tidak akan terbayar,” keluh Daeng Tojeng dengan tatapan nanar menatap riak air danau.

​Alasan klasik Pemkot Makassar menggelar penataan adalah karena para pedagang dianggap melanggar estetika kota dan memicu kemacetan. Sebuah alasan yang dinilai ironis oleh warga setempat. Jalan Danau Tanjung Bunga sejatinya bukanlah jalur padat kendaraan yang sarat kemacetan. Justru, kehadiran lampu-lampu warung ikan bakar inilah yang menghidupkan kawasan yang dulunya sepi.

​Efek Domino: 300 Jiwa Terancam Kehilangan Nafkah

​Jika 20 warung ikan bakar ini diratakan dengan tanah, dampaknya akan meluas bak efek domino. Di balik kepulan asap pembakaran ikan, ada rantai ekonomi yang menghidupi banyak kepala: pemotong ikan, pencuci piring, pelayan, hingga tukang parkir.

​Skala Dampak: Sekitar 300 jiwa menggantungkan hidup dari ekosistem kuliner ini.

1
2TAMPILKAN SEMUA
Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Exit mobile version