Belajar dari Rumah di Tengah Langit Kelabu

Ramzy 347 Pembaca
3 Menit baca

Pembelajaran daring diberlakukan mulai 25 Februari hingga 28 Februari 2026. Selama empat hari itu, ruang-ruang kelas akan berpindah ke layar gawai. Guru tetap menjalankan tugas sesuai jadwal, memberikan materi dan tugas secara efektif serta proporsional. Murid diharapkan mengikuti pembelajaran dengan tertib dari rumah masing-masing.
Sementara orang tua atau wali diminta turut mengawasi dan memastikan anak-anak mereka tetap belajar dengan baik.

Bagi sebagian orang tua, kebijakan ini menghadirkan tantangan baru—membagi waktu antara pekerjaan dan mendampingi anak belajar. Namun di tengah cuaca yang tak menentu, keputusan tersebut dinilai sebagai langkah preventif yang bijak.

Di sejumlah titik kota, genangan air memang kerap muncul ketika hujan turun dalam durasi panjang. Jalan-jalan yang biasanya ramai oleh siswa berseragam kini lebih lengang. Suara bel sekolah digantikan notifikasi aplikasi pembelajaran.

Kebijakan ini bukan sekadar soal memindahkan kelas ke ruang virtual. Ia adalah cerminan kesiapsiagaan menghadapi perubahan iklim yang makin tak terduga. Pemerintah kota, melalui Dinas Pendidikan, berupaya memastikan proses belajar-mengajar tetap berjalan tanpa mengorbankan keselamatan.

Di bawah langit kelabu Makassar, pelajaran tentang adaptasi dan kehati-hatian tengah berlangsung—bukan hanya di buku teks, tetapi dalam kehidupan sehari-hari. Ketika hujan reda dan cuaca kembali bersahabat, sekolah-sekolah akan kembali ramai. Namun untuk saat ini, rumah menjadi ruang belajar paling aman. (Ardhy M Basir)

1
2
TAMPILKAN SEMUA
Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Exit mobile version