“Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami deflasi atau meredam inflasi. Umumnya lebih rendah pada momen pascalebaran seiring normalisasi permintaan pasca HBKN. Momen pascalebaran tahun ini bertepatan dengan April 2026. Kelompok ini mengalami deflasi 0,20 persen dengn andil deflasi 0,06 persen, terutama daging ayam ras, telur ayam ras, cabai rawit, cabai merah,” ungkapnya.
Sementara itu, secara tahunan, inflasi tercatat sebesar 2,42 persen, dengan kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menyumbang inflasi sebesar 3,06 persen dan andil 0,90 persen. Meski demikian, pada periode bulanan April, kelompok ini justru berperan sebagai penahan laju inflasi.
Komoditas yang dominan memberikan andil deflasi tahunan, antara lain cabai merah sebesar 0,13 persen; bawang putih sebesar 0,09 persen; bawang merah sebesar 0,07 persen; cabai rawit dan kentang masing-masing sebesar 0,02 persen; kelapa, daging babi, dan wortel masing-masing sebesar 0,01 persen.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa stabilitas pasokan dan distribusi pangan pada periode pascalebaran relatif terjaga, sehingga mampu meredam tekanan inflasi yang lebih tinggi di tengah meningkatnya harga pada kelompok pengeluaran lainnya.
Secara terpisah, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa kondisi ini menunjukkan pasokan pangan relatif terjaga pada periode pascalebaran. Upaya menjaga ketersediaan dan kelancaran distribusi terus diperkuat, terutama untuk komoditas strategis seperti ayam ras, telur, dan cabai yang berperan langsung terhadap stabilitas harga.
Kementerian Pertanian menegaskan akan terus memantau dinamika produksi dan distribusi di berbagai daerah sentra, guna memastikan pasokan tetap mencukupi dan mampu meredam gejolak harga, khususnya pada momen-momen dengan potensi tekanan inflasi. (*)
