Budaya : Badik Iman Di Hati Aspar Paturusi (2-habis)

Rusdy 300 Pembaca
3 Menit baca

Oleh : Mahrus Andis, Budayawan tinggal di Bulukumba

Puisi Aspar Paturusi yang menjadi objek pembahasan kita kali ini adalah sebagai berikut:

BADIK

jangan sentuh lagi badik kakek/kini tenang tergeletak di peti/genggamlah sebilah badik perkasa/penakluk segala masalah

badik itu tidak terselip di pinggang/tapi harus kukuh tegak di hati/badik itu bernama badik iman/pamornya berukir takwa

inilah badik yang harus kau miliki/tak ada darah di tajam ujungnya/hanya berhias cinta kasih/senyum buat saudara seiman

badik iman berpamor takwa/cabut dari hati segera/bila ada duka musibah

Jakarta, 13 Juli  2010

Membaca puisi ini, kita seakan berhadapan dengan seorang “kakek”. Atau katakanlah si kakek itu bernama “peradaban”. Ibarat to manurung (manusia dewa yang turun dari langit), Aspar memperkenalkan sebuah peradaban baru di balik makna usang sebilah badik: tradisi pembunuhan warisan nenek moyang turun-temurun.

1
2TAMPILKAN SEMUA
Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Exit mobile version