Penulis bersama H Suwardi Thahir Ketua PWI Sulsel 2026 -2031
“Terimakasih, salam kompak”. Tiga untaian kata yang begitu sarat makna masuk di WhatsApp HP saya pukul 23,17 . Pengirimnya adalah Bapak Dr Ir H Suwardi Thahir M,Si (ST) Ketua terpilih Persatuan Wartawan Indonesia ( PWI) Sulsel Periode 2026 -2031 ,dikirim setelah menerima ucapan selamat dan sukses dari saya .
Meski baru berinteraksi serta mengenalnya lebih dekat karena ST di Group Fajar (sekarang komisaris) sementara saya di Pedoman Rakyat (PR) , namun rekam jejak di dunia jurnalistik dan kepemimpinannya sudah saya tahu. Ditambah lagi menjelang pelaksanaan Konferensi Provinsi (Konferprov) PWI Sulsel di Graha Pena Fajar Selasa 02 Juni 2026 , seorang rekan dari salahsatu media Group Fajar mengaku saya tidak begini andaikan bukan karena binaan ,bimbingan dan petunjuk dari Pak ST , beliau sangat baik dalam memimpin ,paparnya . ST juga penguji dalam Uji Kompetensi Wartawan (UKW)tentu sudah paham betul bagaimana perlunya meningkatkan kualitas dan profesionalisme wartawan .
Mendengar itu dari nurani yang paling dalam bernama hati , lebih menebalkan pilihan saya yang ternyata seirama dengan teman tadi bermuara memilih ST sebagai kandidat Ketua PWI dan Drs H M Dahlan Abubakar M,Hum (MDA) sebagai kandidat Ketua Dewan Kehormatan Provinsi (DKP) Sulsel di nomor 02 .Tapi janganki bilang bilang kanda, bisik rekan tadi karena namanya masuk di tim 01 .
Kalau dengan MDA sebagai mantan Pemimpin Redaksi Harian Pedoman Rakyat(PR) mulai sosok pribadi, dunia jurnalistik dan kepemimpinannya saya sudah tahu hampir dari “A sampai Z” . Meski sebagian waktunya di kampus tetapi MDA tetap mampu membagi waktu menggeluti profesinya sebagai jurnalis bukan hanya di meja redaksi sampai larut malam bahkan kadang turun mengeksekusi langsung peliputan di lapangan. Bukan cuma itu dibalik kesibukannya ,putra Bima NTB ini masih mampu menerbitkan karyanya lusinan buku. Ketika saya diminta membantunya sebagai “prajurit” di lapangan menyusun salahsatu buku seorang pejabat di Soppeng , MDA tidak pernah memberi perintah memaksa ,tetapi dengan bahasa dan suara yang lembut pokoknya bahannya kirim saja Mardy – nanti disini saya “goreng “ ,ujarnya .
Diprediksi menang.
Mendengar cerita dan pengakuan serta dukungan mayoritas beberapa rekan dari sejumlah kabupaten/kota di Sulsel termasuk para senior dari TVRI,RRI , PR dan sejumlah media lainnya , saya langsung membathin memprediksi ,Insya Allah ST – MDA menang karena meski tim 01 sudah mengklaim beberapa nama sebagai pendukungnya namun kurang solid karena ada yang membelot diam diam akan memilih 02 .
Seperti yang ditulis MDA dari jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) dari PWI Pusat 305, jumlah yang punya hak pilih 269, yang hadir langsung 146 dan memberikan mandat 123 terdiri 82 mandat untuk 01 dan 41 untuk 02 . Hitung hitungannya biar voting 02 tetap menang karena sudah mengantongi 160 pemilih termasuk mandat ,tentu belum termasuk rekan dari Fajar Group yang memilih menyeberang ke 02.
Mungkin setelah melihat peta kekuatan pasangan 02, daripada “kalah “di kandang sendiri ,pasangan nomor urut 01 Amrullah Basri dan H Abd Jurlan memilih mundur daripada bertarung dengan senior yang disebut sebagai gurunya , yang berarti ST – MDA terpilih secara aklamasi . Setelah terpilih dan masih berdiri bersama ST di belakang meja sidang, saya memberi selamat seusai sidang pleno ditutup. Ketika saya salami tangan saya ditarik MDA untuk cipika cipiki ,saya terharu terasa kedua mata saya membasah .
Melalui tulisan ini saya mohon maaf kepada teman dan saudara saya yang dari kubu nomor urut 01 termasuk H Abd Jurlan yang juga mantan Wartawan PR sebagai calon Ketua DKP berpasangan Amrullah Basri Pemimpin Redaksi Harian Fajar. Ketika di Graha Pena Fajar lokasi acara saat diajak berbicara langsung tetapi saya menolak halus dengan alasan mau sholat atau ke toilet. Dalam usia yang sudah tidak muda ini saya menghindari berbicara tidak sesuai dengan hati nurani karena bagaimanapun juga dan apapun yang terjadi saya tetap di pasangan ST – MDA, meski kedua pasangan sama sama dari Group Fajar dan Pedoman Rakyat. Berbeda pilihan hal yang wajar ,tetapi persaudaraan harus tetap awet .
MDA sudah menumpahkan unek –uneknya dalam tulisannya bertajuk “Yang tersisa saat pesta usai “,bagaimana upaya menjegal keduanya untuk bisa masuk pada tahap pencalonan dengan “dilindas” 14 persyaratan yang tidak semestinya. Namun hasil sidang kilat PWI Pusat yang ditandatangtani Ketua PWI Pusat Ahmad Munir menyatakan Kartu Tanda Anggota (KTA) – Biasa – ST adalah sah .Upaya menjegal MDA juga berlanjut ke persyaratan surat keterangan tidak pernah dihukum dari Pengadilan Negeri dengan deadline waktu yang mepet . Padahal seumur umurnya MDA memang tidak pernah dipidana dan disanksi organisasi . Berkat kerja keras dan upaya tim ST –MDA ,doa dan kuasa Allah Swt persyaratan yang begitu banyak dari panitia akhirnya Allah Swt menakdirkan ST – MDA tetap bisa maju dan sah sebagai calon.


