Langsung ke konten
Berita

Di Bawah Lampu Panggung dan Nada Cinta: Hangatnya Silaturahmi di Masterpiece Makassar

PEDOMANRAKYAT, MAKASSAR – Sabtu sore jelang malam, 14 Februari 2026, suasana di Masterpiece Achmad Dhani Family Karaoke di Jalan G. Latimojong, Makassar, terasa berbeda. Bukan sekadar akhir pekan biasa. Sore itu bertepatan dengan Hari Kasih Sayang—14 Februari—yang oleh sebagian orang dirayakan dengan bunga dan cokelat. Namun di ruang-ruang karaoke yang temaram itu, kasih sayang hadir dalam bentuk yang lebih hangat: silaturahmi.

Tawa pecah bersahutan sejak pintu ruangan dibuka. Satu per satu sahabat, kerabat, dan keluarga datang dengan wajah sumringah. Mereka tidak membawa buket mawar, tetapi membawa cerita.

Tidak ada lilin romantis, tetapi ada cahaya persahabatan yang membuat malam terasa hidup.
Di tengah gemerlap lampu panggung mini, mikrofon berpindah tangan. Lagu-lagu nostalgia mengalun, sesekali diselingi lagu pop terbaru yang dinyanyikan dengan penuh semangat. Ada yang bernyanyi serius, ada pula yang sekadar bersenandung sambil tertawa.

Namun satu hal yang sama: semua larut dalam kebersamaan.
Pengundang acara, Hj. Helmy Wahid, menyampaikan bahwa momen ini sengaja dipilih bertepatan dengan Hari Kasih Sayang agar maknanya lebih luas.

“Hari ini identik dengan kasih sayang. Tapi bagi saya, kasih sayang itu bukan hanya soal pasangan. Ini tentang persaudaraan, tentang menjaga silaturahmi. Kita sibuk dengan aktivitas masing-masing, jadi momen seperti ini penting untuk saling menguatkan, berkumpul untuk saling memaafkan sebelum memasuki bulan Suci Ramadhan ,” ujarnya dengan senyum hangat.

Ia menambahkan, kebersamaan sederhana seperti ini justru memiliki nilai yang dalam.

“Kita mungkin tidak selalu punya waktu panjang, tapi ketika ada kesempatan berkumpul, mari manfaatkan. Tertawa bersama, bernyanyi bersama, itu juga bentuk cinta. Silaturahmi harus terus dijaga, karena di situlah keberkahan,” tutur Hj. Helmy Wahid.

Di sela lagu, obrolan mengalir ringan. Tentang keluarga, pekerjaan, rencana masa depan, hingga kenangan masa lalu yang mengundang gelak tawa. Suasana cair, tanpa sekat. Yang muda menghormati yang lebih tua, yang tua memberi ruang bagi yang muda untuk berekspresi.

Beberapa memilih duduk santai sambil menikmati hidangan, lainnya berdiri mendekat ke layar, bernyanyi penuh penghayatan. Momen-momen kecil itu terasa sederhana, tetapi bermakna. Sebab di sanalah kasih sayang tumbuh—dalam perhatian, dalam kebersamaan, dalam kesediaan meluangkan waktu.

Di kota yang tak pernah benar-benar tidur seperti Makassar, sore menjelang malam itu menjadi pengingat bahwa silaturahmi adalah energi yang menguatkan. Ia tidak membutuhkan seremoni mewah. Cukup ruang, waktu, dan hati yang terbuka.

Kegiatan kumpul-kumpul ini bukan hanya ajang hiburan, melainkan ruang mempererat hubungan. Hari Kasih Sayang pun terasa lebih bermakna, karena dirayakan bersama orang-orang terdekat dalam suasana hangat dan penuh canda.

Malam boleh berakhir, lagu boleh usai. Namun silaturahmi yang terjalin Sabtu itu akan terus berdendang di hati—seperti nada yang tak pernah benar-benar berhenti. (Ardhy M Basir)

Artikel ini telah dibaca 0 kali

Tinggalkan Komentar