Diskresi Bahlil untuk IAS Jadi Sinyal Kuat Jelang Musda Golkar Sulsel

Ramzy 138 Pembaca
3 Menit baca

PEDOMANRAKYAT, MAKASSAR — Pengamat politik sekaligus Direktur Nurani Strategic Consulting, Nurmal Idrus, menilai surat diskresi yang diberikan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar kepada Ilham Arief Sirajuddin (IAS) menjadi tahapan paling menentukan dalam proses pencalonan mantan Wali Kota Makassar itu pada Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Sulawesi Selatan.

Penilaian itu disampaikan Nurmal menyusul terbitnya surat diskresi yang ditandatangani Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia dan diserahkan langsung kepada IAS di Jakarta, Rabu (24/6/2026).

Menurut Nurmal, diskresi tersebut menjadi faktor penting karena sebelumnya IAS memerlukan pengecualian atau izin khusus dari DPP untuk dapat memenuhi syarat maju sebagai calon Ketua DPD I Partai Golkar Sulsel.

“Diskresi itu ibarat jalan tol bagi IAS menuju kursi Ketua Golkar Sulsel. Bahkan bisa disebut sebagai tahapan paling krusial yang berhasil ia lewati. Sebab secara administratif dan organisatoris, IAS sebelumnya berada pada posisi yang memerlukan pengecualian atau izin khusus dari DPP untuk dapat maju sebagai calon ketua,” kata Nurmal.

Terbitnya surat diskresi itu sekaligus memunculkan berbagai spekulasi mengenai arah kontestasi Musda Golkar Sulsel mendatang. Sejumlah kalangan menilai keputusan tersebut menjadi sinyal kuat dukungan DPP terhadap IAS.

Nurmal menilai, keputusan DPP tidak hanya menyelesaikan aspek administratif pencalonan, tetapi juga mengandung pesan politik yang kuat kepada para pemilik suara dalam Musda.

“Diskresi itu bukan hanya dokumen administratif. Dalam tradisi politik partai, terutama partai yang memiliki struktur komando kuat seperti Golkar, diskresi dari Ketua Umum adalah sinyal politik yang sangat jelas. Bahkan dapat dimaknai sebagai pesan langsung kepada para voters, pilihan Jakarta berada pada IAS,” ujarnya.

Ia memperkirakan keluarnya diskresi akan memengaruhi peta persaingan menjelang Musda. Para pemilik suara, kata dia, berpotensi menjadikan sikap DPP sebagai salah satu pertimbangan dalam menentukan pilihan.

“Ketika Ketua Umum telah memberikan ruang dan legitimasi politik kepada seorang figur, maka itu akan dibaca oleh para pemilik suara sebagai arah kebijakan organisasi. Karena itu, saya melihat peluang IAS kini semakin terbuka dan semakin kuat dibanding sebelumnya,” katanya.

Meski demikian, Nurmal menegaskan dinamika politik menjelang Musda masih terbuka. Komunikasi dan konsolidasi antar kandidat tetap dapat berlangsung hingga pelaksanaan forum tersebut.

“Musda tetap forum demokratis dan keputusan akhir berada di tangan voters. Tetapi secara politik, diskresi ini telah mengirimkan pesan yang sangat kuat, IAS mendapatkan kepercayaan dari tingkat pusat. Karena itu, ruang manuver politik para pemilik suara kini akan semakin dipengaruhi oleh sinyal yang telah diberikan DPP,” tutur Nurmal. (Hdr)

Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Exit mobile version