PEDOMANRAKYAT, MAKASSAR – Kepemimpinan baru di Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) Universitas Negeri Makassar (UNM) resmi dimulai setelah Dr. Andi Atssam Mappanyukki, S.Or., M.Kes., dilantik sebagai Dekan FIKK periode 2026–2030 oleh Plt. Rektor UNM, Prof. Dr. Farida Patittingi, S.H., M.Hum., dalam prosesi pelantikan pejabat universitas yang berlangsung di Makassar, Jumat (12/6/2026).
Pelantikan tersebut merupakan tindak lanjut dari hasil Pemilihan Dekan (Pildek) FIKK yang sebelumnya digelar pada 13 April 2026 dan menetapkan Dr. Andi Atssam Mappanyukki sebagai dekan terpilih. Suasana pelantikan berlangsung khidmat dan penuh semangat kebersamaan, menjadi momentum penting bagi seluruh sivitas akademika untuk memperkuat persatuan serta menatap masa depan fakultas dengan optimisme dan tekad yang lebih besar.
Dalam pernyataannya, Dr. Andi Atssam menegaskan bahwa jabatan dekan bukanlah simbol kekuasaan, melainkan amanah besar yang harus dijalankan dengan integritas, dedikasi, dan tanggung jawab moral yang tinggi.
“Jabatan ini bukan sekadar posisi struktural, tetapi amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada institusi, masyarakat, dan Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu, pengabdian dan kerja nyata harus menjadi prioritas utama,” ujarnya.
Ia mengajak seluruh sivitas akademika untuk meninggalkan perbedaan yang muncul selama proses demokrasi kampus dan kembali bersatu dalam semangat kolaborasi demi kemajuan bersama.
“Kontestasi telah usai. Kini saatnya kita melangkah bersama, memperkuat persaudaraan, membangun sinergi, dan mengerahkan seluruh potensi terbaik yang kita miliki untuk membawa fakultas ini semakin maju dan berdaya saing,” katanya.
Menurutnya, keberhasilan sebuah institusi tidak ditentukan oleh kemampuan individu semata, melainkan oleh kekuatan kolektif seluruh elemen yang bekerja dengan tujuan yang sama. Oleh karena itu, ia berkomitmen membangun kepemimpinan yang inklusif, terbuka terhadap kritik, serta memberikan ruang partisipasi yang setara bagi seluruh warga fakultas.
“Pemimpin sejati adalah pelayan bagi institusi dan masyarakat akademik. Seorang pemimpin harus siap menerima masukan, terbuka terhadap kritik, serta mampu menerjemahkan gagasan menjadi program yang berdampak nyata,” tegasnya.
