Opini Kritis tentang Etika Budaya dan Distorsi Fakta
Oleh: Andi Fahri Makkasau / 2530132033
Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi Unifa Makassar.
Di Sulawesi Selatan, adat dan sejarah bukan sekadar warisan simbolik, melainkan fondasi identitas kolektif. Tradisi Bugis-Makassar tumbuh dari sistem nilai yang kompleks: ade’, bicara, rapang, wari’, dan sara’sebuah kosmologi sosial yang menata relasi kuasa, martabat, dan legitimasi. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, pelestarian adat kerap terjebak pada dramaturgi semu panggung raja-rajaan yang gemar memainkan peran, memutarbalikkan fakta, dan mengaburkan garis antara sejarah dan ambisi personal.
Dramaturgi sejatinya adalah alat. Ia dapat menjadi medium edukatif yang menghidupkan kembali nilai siri’na pacce, atau sebaliknya menjadi instrumen manipulasi simbolik. Di Sulawesi Selatan, persoalan muncul ketika struktur dramatik, gelar, busana, silsilah, dan ritual dipakai tanpa disiplin sumber. Tokoh-tokoh tertentu tampil bak raja di panggung adat, mengklaim legitimasi yang tak pernah tercatat dalam lontara’, lalu mengulang narasi itu hingga tampak seolah-olah sahih.
