Totalitas Akhaya terlihat lewat pembawaan dua buah lagu yang memamerkan kematangan vokal, kontrol teknik yang presisi, serta penguasaan panggung yang sangat menawan. Lagu wajib berjudul “Ku Mau MemujiMu” (Kaleb Yuseli) serta lagu pilihan “Mari Puji Nama Tuhan” (Septhian Catur Pamungkas) diselesaikannya dengan sempurna hingga mengundang decak kagum.
Begitu Akhaya selaku penampil pamungkas menyudahi lagunya, Gedung PKK langsung bergemuruh oleh tepuk tangan riuh dan seruan lantang “Sulsel… Ewako!”. Sekitar seratusan pendukung Kontingen Sulsel yang hadir tak mampu membendung rasa haru dan bangga mereka. Mereka spontan berlarian ke depan panggung, merayakan momen emosional tersebut sambil berfoto bersama dan menyanyikan yel-yel kebanggaan.

Suasana semakin pecah ketika seluruh panitia Pesparawi XIV yang bertugas di lokasi tanpa aba-aba ikut berlari ke depan panggung demi larut dalam euforia kebahagiaan bersama rombongan dari Bumi Sawerigading ini. Tak ketinggalan, para petugas PLN, teknisi sound sistem, hingga penonton lainnya ikut melebur menjadi satu di depan altar kompetisi.
Puncak kehebohan terjadi saat operator memutarkan lagu populer tanah Papua yang bernuansa rohani, “Tari Yospan Rohani”. Alunan musik yang begitu rancak dan penuh energi itu seketika membuat ratusan orang yang terdiri dari kontingen Sulsel, panitia, dan pengunjung langsung membentuk lingkaran besar, berpegangan tangan, lalu bergerak. mengitari ruangan.
Mereka menari bersama, memperagakan gerakan Tari Dero yang bersemangat mengikuti ketukan lagu. Menariknya, Tari Dero yang merupakan warisan budaya asli Sulawesi Tengah dan sangat populer di Luwu Timur (Sulsel) ini memiliki kemiripan gerakan dengan tradisi lokal Papua, di mana seorang warga Manokwari menyebut fenomena tarian kebersamaan tersebut sebagai ‘Gaya Seka-seka’. (*)

