PEDOMANRAKYAT, MAKASSAR – Filosofi Siri na Pacce/Pesse bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan pranata sosial asli dan puncak kebudayaan di Sulawesi Selatan yang menjadi kompas hidup masyarakatnya. Nilai luhur inilah yang diangkat dalam Workshop Incremental Art Experience: Tumbuh Bersama Seni Lewat Rasa dan Karya di Fakultas Desain dan Seni Kampus UNM Parangtambung, Makassar, Sabtu (6/6/2026).
Kegiatan yang menjadi bagian dari program “Karya Ceria” ini menghadirkan penulis sekaligus pegiat literasi, Rusdin Tompo, sebagai pembicara utama.
Dalam paparannya, Rusdin menekankan bahwa Siri na Pacce memiliki dimensi universal yang sangat relevan dengan kemanusiaan dan inklusivitas.
”Nilai-nilai Siri na Pacce itu universal. Di dalamnya ada pengakuan atas persamaan derajat, hak, dan kewajiban sesama manusia, cinta kasih, keberanian membela keadilan, hingga etos kerja keras,” ujar pencipta puisi Panggil Aku Daeng tersebut.
Rusdin, yang banyak merujuk pada pemikiran akademisi dan budayawan Sulsel seperti Abu Hamid, Sugira Wahid, Rahman Arge, dan Prof. Aminuddin Salle, mengibaratkan Siri na Pacce sebagai grundnorm (norma dasar) bagi orang Sulawesi Selatan.
”Ini adalah sikap moral yang menjaga stabilitas sosial agar tatanan pangngadakkang (Makassar) atau pangngadereng (Bugis) tetap dinamis dan taat asas. Filosofi ini mendorong solidaritas sekaligus integrasi sosial,” tambah Rusdin dalam sesi yang dipandu oleh Reskyana Syam selaku moderator.
Ruang Kolaborasi dan Seni Inklusif
Workshop yang berlangsung selama dua hari (6–7 Juni 2026) ini terasa istimewa karena menempatkan teman-teman disabilitas sebagai seniman utama—bukan sekadar objek kegiatan.
Penanggung Jawab Program, Muh. Firmansyah, S.Ds, menjelaskan bahwa workshop ini dirancang untuk mengenalkan budaya daerah melalui karya seni yang inklusif dan aksesibel bagi semua orang.
”Ini adalah rangkaian program Karya Ceria. Puncaknya nanti akan menampilkan karya kolaboratif dari ragam disabilitas sebagai representasi pengalaman, pemahaman, dan ekspresi mereka terhadap budaya Siri na Pacce,” jelas Firmansyah.
Sebanyak 10 seniman disabilitas Makassar terlibat aktif sebagai kolaborator dalam ruang kreatif ini, yang terdiri dari:

