PEDOMANRAKYAT, MAKASSAR - Tahun Baru Imlek kembali menyapa. Pada 17 Februari 2026, masyarakat Tionghoa merayakan Imlek 2577 Kongzili—tahun yang dalam penanggalan Tionghoa dikenal sebagai Tahun Kuda Api. Di Makassar, perayaan itu menemukan puncaknya dalam “Imlek Bersama Warga Tionghoa Makassar” yang digelar di Balai Prajurit Jenderal M. Yusuf, Rabu, 18 Februari 2026, mengusung tema “Harmoni Imlek Nusantara.”
Ornamen merah menyala menghiasi sudut-sudut kota, lampion bergantungan, dan doa-doa dipanjatkan dalam keheningan yang khusyuk. Namun di balik kemeriahan itu, ada refleksi mendalam tentang makna Tahun Kuda Api—tahun yang oleh banyak pakar disebut penuh tantangan dan dinamika.
Ketua Umum Pusat Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI), Willianto Tanta, mengajak masyarakat untuk tidak terjebak pada rasa cemas.
“Banyak pakar memprediksi Tahun Kuda Api adalah tahun yang penuh tantangan. Tapi kita tidak boleh panik. Kita harus optimis menghadapi keadaan, sesulit apa pun,” ujar Willianto.
Kuda dan Api: Energi yang Harus Dijinakkan
Dalam filosofi Tionghoa, terdapat lima unsur atau Wu Xing: logam (Jin), kayu (Mu), air (Shui), api (Huo), dan tanah (Tu). Tahun ini, unsur api bersanding dengan shio kuda—sebuah kombinasi yang hanya terjadi setiap 60 tahun sekali. Setelah 2026, Kuda Api baru akan kembali pada 2086.
Api melambangkan energi, gairah, dan gejolak. Sementara kuda adalah simbol semangat, kebebasan, dan kecepatan. Kuda dikenal liar dan sulit dikendalikan, namun ketika dijinakkan, ia menjadi kekuatan yang luar biasa.
“Api itu panas, tapi bisa menjadi sumber cahaya dan kehidupan jika dijaga. Kuda itu liar, tapi bisa membawa kita melaju jauh jika diarahkan dengan bijak. Intinya, jangan menghadapi tahun ini dengan emosi, melainkan dengan kelembutan dan kebijaksanaan,” tutur Willianto.
Menurutnya, budaya Tionghoa yang telah melewati lebih dari 4.000 tahun sejarah telah terbiasa dengan siklus perubahan. Setiap gejolak bukan untuk ditakuti, melainkan untuk dipahami dan diurai.
Dunia yang Bergejolak, Hati yang Harus Tenang
Imlek 2577 hadir di tengah dunia yang belum sepenuhnya pulih. Konflik dan peperangan masih terjadi di berbagai belahan bumi, termasuk krisis kemanusiaan di Gaza dan Palestina. Di dalam negeri, bencana alam seperti banjir di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat menyisakan duka mendalam.
Sebagai organisasi sosial, PSMTI tidak tinggal diam. Willianto menyampaikan bahwa jajaran PSMTI di berbagai daerah telah turun langsung membantu korban bencana, termasuk saat terjadi musibah jatuhnya pesawat di Gunung Bulusaraung, di mana pengurus PSMTI Sulawesi Selatan bersama jajaran kabupaten bergerak cepat ke lokasi.
“Sebagai organisasi berbasis sosial, kami harus hadir. Imlek bukan hanya tentang perayaan, tapi tentang kepedulian. Di tengah tantangan, kita perkuat solidaritas,” tegasnya.
Harmoni Imlek Nusantara
Tema “Harmoni Imlek Nusantara” bukan sekadar slogan. Di Makassar, perayaan Imlek kini menjadi milik bersama—bukan hanya warga Tionghoa, tetapi juga seluruh elemen masyarakat. Kebersamaan lintas suku dan agama terasa hangat, mencerminkan wajah Indonesia yang majemuk.
Bagi keluarga besar PSMTI, Imlek adalah momentum mempererat persaudaraan sekaligus memperkuat komitmen untuk berkontribusi dalam mewujudkan Indonesia yang maju dan sejahtera.
“Yang perlu kita lakukan adalah bersyukur dan berdoa. Setelah itu, berkumpul bersama keluarga, makan bersama, lalu yang muda mengunjungi yang lebih tua. Tradisi itu sederhana, tapi sarat makna. Di situlah harmoni bermula,” kata Willianto.
Hujan di Hari Imlek
Ada kepercayaan lama bahwa hujan di hari Imlek membawa rezeki. Namun Willianto mengingatkan agar masyarakat tidak terjebak pada cerita lama.
“Hujan adalah peristiwa alam.
Kalau di hari Imlek tidak turun hujan, jangan langsung berpikir rezeki akan seret. Kita harus berpikir positif kepada Tuhan. Mungkin rezeki kita sedang dipersiapkan pada waktu yang tepat,” ujarnya.
Optimisme itulah yang menjadi roh Tahun Kuda Api. Gejolak boleh datang, tantangan boleh menghadang, tetapi manusia diberi akal dan hati untuk menaklukkannya.
Di Balai Prajurit Jenderal M. Yusuf malam itu, doa-doa terangkat di bawah cahaya lampion. Kuda Api bukan lagi simbol kegelisahan, melainkan lambang semangat yang dikendalikan dengan kebijaksanaan.
Imlek 2577 di Makassar bukan sekadar pergantian tahun. Ia adalah peneguhan harapan—bahwa dalam keberagaman, harmoni tetap mungkin. Bahwa dalam panasnya api, selalu ada cahaya. Dan bahwa dalam liarnya kuda, selalu ada arah bagi mereka yang mampu menuntunnya. (Ardhy M Basir)

