Jawaban Habibie Buat Pak Harto Terdiam

Ramzy 622 Pembaca
8 Menit baca

Catatan M.Dahlan Abubakar

Ada tiga informasi yang baru saya tahu dari ‘dapur’ selama ini tertuang di dalam buku “The Untold Stories Prof.Dr.Yusril Ihza Mahenda dan Testimoni Kolega yang diluncurkan di Balai Kartini, 7 Februari 2026. Peluncuran buku ini serangkai dengan tujuh buku lainnya. Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka yang sempat berpantun mengawali sambutan singkatnya. Saya yang hadir bersama adik Hamdan Zoelva, termasuk diundang karena satu dari 51 penulis testimoni ‘kolega’, saya termasuk salah seorang di antaranya. Seorang lainnya dari Makassar adalah Dr. Syarifuddin Jurdi.
Tiga informasi yang saya maksudkan itu direpresentasikan oleh tulisan Siti Hardiyanti Indra Rukmana (Putri Soeharto) yang bertajuk “Pak Yusril pada Hari-Hari Terakhir Pak Harto Berhenti” (hlm 656-661). Dua tulisan yang dibuat sendiri oleh Pak Yusril berjudul “Dipecat Gus Dur, Dipanggil Megawati” dan “Gagal Jadi Presiden”. (hlm 193-195) dan (hlm 196-197). Buku ini dieditori M.Saleh Mude, dkk.

Hari-hari Terakhir Pak Harto

Pada tanggal 20 Mei 1998, Siti Hardiyanti Indra Rukmana yang akrab disapa Mbak Tutut, yang bersama saudara-saudaranya sedang prihatin dengan apa yang terjadi, mendapat kabar bahwa sebagian besar menteri Kabinet Pembangunan VI menyatakan pengunduran diri melalui sebuah surat pernyataan yang mereka tanda tangani. Di antara yang memperoleh copy surat pengunduran diri tersebut Pak Yusril dan Saadilah Mursyid (Menteri Sekretaris Negara kala itu).

Pada hari yang sama, Pak Harto memanggil semua anaknya ke Jl. Cendana. Pak Harto juga memberi tahu mereka akan mengundang semua mantan wakil presiden yang masih ada waktu itu, yakni Umar Wirahadikusumah (1924-2003) dan Try Sutrisno. Wakil Presiden B.J.Habibie (1936-2019) pun diundang.
Dalam pertemuan dengan semua anaknya di ruang kerjanya di Jl. Cendana, Pak Harto mengatakan berniat berhenti dari jabatannya.
“Kata “berhenti” itu beliau ucapkan kepada kami. Beliau tidak menggunakan “mengundurkan diri” dari jabatannya atau menggunakan istilah dalam bahasa Jawa yang sering diungkapkan, yakni “lengser ke prabon madeg pandito,” tulis Mbak Tutut.
Diksi “berhenti”, memang digunakan dalam pasal UUD 1945 yang menyatakan bahwa “Jika Presiden mangkat, berhenti dan tidak mampu menjalankan tugas dan kewajibannya” dan seterusnya.
Sebagai anak, tulis Mbak Tutut, minta Bapaknya tidak mundur. Memang negara dalam keadaan sulit, tapi Bapak mampu mengatasi masalah berat ini. Meskipun banyak yang mendesak mundur, Mbak Tutut yakin yang mencintai Bapak juga masih banyak.
Pak Harto kemudian meminta anak sulungnya itu menuliskan keinginan Bapaknya berhenti dari jabatannya dalam beberapa kalimat.
“Nanti tulisan itu kasihkan ke Yusril. Dia ada di sini (Jl. Cendana, maksudnya). Di Sekretariat Negara (Sekneg), Yusril yang paling mengerti soal-soal hukum,” kata Pak Harto memberi tahu putrinya, kemudian memasukkan tulisan itu ke kantong bajunya.
Sekitar pukul 20.00 WIB pada hari yang sama, satu demi satu mantan wakil presiden merapat memenuhi undangan Pak Harto guna membahas situasi terakhir negara. Setelah menyimak yang dikemukakan Pak Harto, para wakil presiden itu meyakinkan beliau agar meneruskan kepemimpinannya.
“Bagaimana kalau Pak Harto berhenti dari jabatannya, apakah Pak Habibie sanggup mengatasi keadaan dan meneruskan kepemimpinan,” Pak Harto bertanya kepada B.J. Habibie yang kebetulan belakangan muncul di Jl. Cendana dan boleh jadi tidak sempat mendengar saran para mantan wakil presiden.
“Sebagai seorang Wakil Presiden, saya mengerti bahwa setiap saat, jika terjadi sesuatu pada Presiden, saya harus siap mengambil alih tanggung jawab,” jawab Habibie.
Mendengar jawaban Habibie, Pak Harto terdiam. Tidak mengomentari kalimat Wakil Presiden. Publik pada masa itu sangat maklum, jika Pak Harto diam setelah mendengar kalimat lawan bicaranya, berarti dapat dimaknai, tidak atau kurang berkenan dengan apa yang disampaikan itu. Sebagai seorang yang sudah sepuh dan berlatar belakang budaya dan tata kama Jawab, kata Mbak Tutut, jawaban itu sepertinya mengagetkan Pak Harto.

Kalimat inilah mungkin yang membuat Pak Harto konon tidak pernah memberi kesempatan kepada Habibie bertemu setelah berhenti sebagai presiden tatkala belum sakit. Meskipun dalam catatan lain, Habibie pernah menjenguk Pak Harto ketika dirawat.
“Itu hanya perasaan saya,” ucap Mbak Tutut (hlm.660).
Yang jelas, Pak Yusril tetap menggunakan kata “berhenti” dalam teks pidato Pak Harto yang dibacakan pada tanggal 21 Mei 1998. (hlm 661).
Mbak Tutut satu-satunya anak-anak beliau yang ikut di mobil Pak Harto saat ke Istana Merdeka yang terakhir kali diinjaknya.

Dipecat dan gagal jadi presiden

Yusril Ihza Mahendara sudah enam bulan diberhentikan, saat Gus Dur diberhentikan oleh MPR. Ini gegara Gus Dur mau mengeluarkan dekret (bentuk tidak baku: dekrit) dan mencabut Tap MPR No.XXV tentang Markisme/PKI.

“Tap MPR itu bukan kewenangan Presiden, Gus, itu kewenangan MPR,” kata Yusril.

1
2TAMPILKAN SEMUA
Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Exit mobile version