Jeritan dari Pelosok Sinjai: Ketika Bocah 11 Tahun Harus Ditandu 2 Kilometer Demi Menjemput Ambulans

Ramzy
Ramzy 38 Pembaca
4 Menit baca

Follow Pedomanrakyat.co.id untuk mendapatkan informasi terkini.

Klik WhatsApp Channel  |  Google News

PEDOMANRAKYAT, SINJAI – Sebuah potret kelam kembali mengoyak rasa kemanusiaan kita di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan. Tanpa pilihan lain, seorang bocah perempuan berusia 11 tahun bernama Putri terpaksa digotong menggunakan tandu darurat oleh keluarga dan warga sekitar. Mereka harus berjalan kaki menyusuri jalanan sepanjang dua kilometer hanya untuk mencapai lokasi yang bisa diakses oleh mobil ambulans, Selasa (9/6/2026) sekitar pukul 10.00 WITA.

Tragedi ini langsung memantik gelombang keprihatinan dari berbagai elemen masyarakat, salah satunya dari Ketua Komite Jurnalis Nusantara Independen (KJNI) Sulawesi Selatan, Aswar. Dengan nada getir, ia melayangkan kritik keras dan mempertanyakan di mana peran negara ketika masyarakat di wilayah terpencil harus berjuang sendirian demi mendapatkan hak pelayanan kesehatan yang paling mendasar.

Aswar menegaskan bahwa penderitaan yang dialami oleh Putri bukanlah sebuah insiden tunggal yang baru pertama kali terjadi. Fenomena memilukan ini, menurutnya, sudah menjadi “makanan sehari-hari” yang terus berulang setiap kali ada warga pelosok yang didera rujukan medis darurat.

“Aksi heroik yang dipaksakan seperti ini sudah berulang kali kami saksikan dan lakukan saat ada warga yang sakit parah. Masyarakat terpaksa patungan tenaga untuk menandu pasien karena jalur transportasi darat ke wilayah kami memang mustahil ditembus kendaraan roda empat,” keluh Aswar dengan nada kecewa.

Ia memandang potret buram ini sebagai tamparan keras sekaligus cermin retak yang memperlihatkan betapa timpangnya pemerataan pembangunan infrastruktur dasar di kawasan pedesaan, terutama yang menopang sektor kesehatan.

“Kami menuntut pemerintah tidak lagi menutup mata dan segera memberikan perhatian konkret bagi warga di pelosok ini. Cukup sudah obral janji manis. Yang masyarakat butuhkan saat ini adalah bukti konkret di lapangan agar akses menuju fasilitas medis tidak lagi menjadi perjalanan yang bertaruh nyawa,” tekannya.

Baca juga :  Polres Luwu Utara Naikkan Kasus Dugaan Pencemaran Nama Baik oleh Akun Juwita Yusuf ke Tahap Penyidikan

Lebih lanjut, Aswar mendesak Pemerintah Kabupaten Sinjai bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan untuk segera menempatkan perbaikan jalan pemukiman sebagai skala prioritas utama. Baginya, pembangunan jalan bukan sekadar urusan semen dan batu, melainkan urusan hidup dan matinya seorang warga negara.

1
2TAMPILKAN SEMUA
Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar
error: Content is protected !!