Kementan: Hilirisasi CPO Tekan Impor Solar dan Perkuat Ekonomi Nasional

Ramzy
Ramzy 403 Pembaca
8 Menit baca

Follow Pedomanrakyat.co.id untuk mendapatkan informasi terkini.

Klik WhatsApp Channel  |  Google News

Hilirisasi kelapa sawit juga terbukti mampu meningkatkan nilai tambah (value added) produk secara signifikan, berkisar antara 3 hingga lebih dari 30 kali lipat dibandingkan hanya mengekspor CPO mentah. Secara umum, hilirisasi dapat meningkatkan nilai ekonomi 3–10 kali lipat, bahkan untuk produk bernilai tinggi seperti vitamin E dan oleokimia tertentu, nilai tambahnya dapat mencapai lebih dari 30 kali lipat.

Pengembangan industri hilir sawit saat ini telah menghasilkan lebih dari 193 jenis produk turunan, mulai dari pangan, kosmetik, bahan kimia, hingga bioenergi. Transformasi ini tidak hanya memperkuat struktur industri nasional, tetapi juga meningkatkan harga di tingkat petani, memperluas lapangan kerja, serta menciptakan efek ekonomi berantai yang luas.

Selain komoditas sawit, penguatan produksi beras nasional juga menunjukkan peran strategis Indonesia dalam dinamika pangan dunia. Harga beras internasional, seperti beras Thailand 5 persen, tercatat turun dari sekitar US$660 per ton pada awal 2024 menjadi sekitar US$368 per ton pada akhir 2025, atau turun sekitar 44 persen.

Di satu sisi, peningkatan produksi global yang mencapai kisaran 540–550 juta ton serta kembalinya ekspor negara besar menjadi faktor penting. Namun di sisi lain, perubahan signifikan pada permintaan global juga terjadi.

Dalam periode 2023–2024, Indonesia mengimpor sekitar 7,5 juta ton beras. Pada 2025, impor tersebut praktis berhenti seiring peningkatan produksi nasional yang mencapai sekitar 34,69 juta ton, meningkat lebih dari 13 persen.

Dengan volume perdagangan beras dunia sekitar 50–55 juta ton per tahun, berkurangnya permintaan Indonesia sekitar 3–4 juta ton per tahun setara dengan 5–7 persen pasar global. Penurunan permintaan dalam skala tersebut memberikan tekanan terhadap harga internasional.

Hal ini diperkuat dengan posisi cadangan beras nasional yang mencapai sekitar 4,3 juta ton pada awal 2026, yang mengirimkan sinyal kuat bahwa Indonesia tidak lagi menjadi pembeli besar dalam jangka pendek.

Baca juga :  PT Aslam Group Kembali Gelar Manasik Umrah di Sengkang, Hadirkan Pemateri Berpengalaman

Dengan demikian, dinamika harga beras dunia mencerminkan kombinasi antara peningkatan pasokan global dan penyesuaian permintaan, termasuk dari Indonesia sebagai salah satu aktor penting dalam pasar pangan internasional.

Selain aspek energi dan pangan, hilirisasi CPO juga memberikan dampak berganda (multiplier effect) yang luas, antara lain peningkatan nilai tambah ekonomi di dalam negeri, menjadi pendorong pertumbuhan industri dan penciptaan lapangan kerja, peningkatan kesejahteraan petani serta penguatan kedaulatan ekonomi nasional.

“Kebijakan hilirisasi yang didorong Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman merupakan bagian dari strategi besar pembangunan nasional berbasis pertanian. Nilai tambah tertinggi berada di hilir, dan di situlah Indonesia harus mengambil peran utama,” pungkasnya.

Ke depan, pengalaman Indonesia dalam mengelola komoditas strategis seperti sawit dan beras menunjukkan bahwa kebijakan yang tepat tidak hanya berdampak bagi dalam negeri, tetapi juga memiliki pengaruh nyata terhadap dinamika pasar global.

Indonesia tidak lagi sekadar menjadi bagian dari pasar dunia, melainkan telah menjadi salah satu faktor yang ikut membentuk arah ekonomi global. Dengan kekuatan pada komoditas strategis seperti CPO dan beras, serta penguatan hilirisasi dan kemandirian energi, Indonesia optimistis dapat memberikan dampak besar bagi stabilitas ekonomi dunia, sekaligus meningkatkan kesejahteraan rakyatnya.

Kementerian Pertanian terus mendorong percepatan investasi di sektor hilirisasi serta memperkuat sinergi dengan pelaku usaha guna mewujudkan target kemandirian dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. (*)

1
2
TAMPILKAN SEMUA
Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar
error: Content is protected !!