Melarangnya bertanding dapat dianggap mengorbankan mereka yang tidak bersalah.
Tidak ada pilihan yang sepenuhnya bebas dari beban moral.
Lebih jauh lagi, dunia juga dihadapkan pada persoalan yang lebih rumit: keajekan (konsistensi).
Ada perseteruan yang segera menjadi alasan untuk boikot. Ada perseteruan lain yang hampir tidak pernah memasuki ruang diskusi olahraga mancanegara. Ada negara yang dikeluarkan dari pertandingan. Ada pula negara yang tetap menjadi tuan rumah berbagai ajang bergengsi meskipun menghadapi kritik yang tidak kalah keras.
Maka pertanyaan pun bergeser.
Apakah olahraga sedang mempertahankan nilai universal, atau nilai itu sendiri sedang berunding dengan kepentingan politik, ekonomi, dan geopolitik?
Mungkin tidak ada jawaban yang sederhana.
Sebab olahraga dan politik sama-sama lahir dari kehidupan manusia. Keduanya berbicara tentang jati diri, kebanggaan, solidaritas, dan persaingan. Memisahkan keduanya sepenuhnya mungkin sama sulitnya dengan memisahkan manusia dari sejarahnya.
Ironisnya, justru di stadion kita sering melihat sesuatu yang jarang ditemukan di ruang politik.
Dua negara dapat bertarung habis-habisan selama sembilan puluh menit, tetapi setelah peluit akhir berbunyi para pemain saling berjabat tangan, bertukar kaus, dan berpelukan. Mereka tidak kehilangan jati diri nasionalnya, tetapi juga tidak kehilangan rasa hormat kepada lawannya.
Mungkin di situlah pelajaran yang paling berharga.
Olahraga tidak pernah benar-benar bebas dari politik. Namun olahraga juga mengingatkan bahwa persaingan tidak harus berakhir dengan kebencian.
Karena itu, setiap kali isu boikot kembali mengemuka, mungkin yang paling penting bukanlah mencari jawaban yang pasti. Pertanyaan itu telah menemani dunia olahraga selama puluhan tahun dan tampaknya akan terus hadir pada generasi berikutnya.
Stadion akan terus dipenuhi sorak-sorai. Bendera akan terus berkibar. Lagu kebangsaan akan terus dinyanyikan.
Dan di balik semua itu, sebuah pertanyaan lama akan selalu ikut memasuki lapangan:
Dapatkah manusia bertanding sebagai lawan, tanpa harus hidup sebagai musuh? (*)

