Hingga saat ini, Perpustakaan “Balla Ammaca” SDN Parinring diakuinya memang belum memiliki tenaga pustakawan yang berlatar belakang pendidikan Sarjana Ilmu Perpustakaan (SIP). Pihak sekolah sempat berkomunikasi dengan beberapa peminat, namun belum menemui titik temu terkait besaran honorarium.
Menyiasati kendala tersebut, untuk sementara waktu pengelolaan dan operasional perpustakaan diberdayakan dengan melibatkan para guru serta tenaga administrasi sekolah.
Meski menghadapi keterbatasan, SDN Parinring telah menyusun sederet program strategis untuk menggenjot minat baca siswa. Program tersebut meliputi pembiasaan membaca buku 15 menit sebelum jam pelajaran dimulai, jadwal kunjungan wajib perpustakaan, optimalisasi pojok baca di setiap kelas, kegiatan mendongeng, hingga pemberian apresiasi (penghargaan) bagi siswa yang paling rajin membaca.
”Ke depan, kami juga berencana mengukuhkan Duta Baca atau Duta Perpustakaan Sekolah. Kehadiran mereka diharapkan mampu menjadi motivator dan role model bagi teman-teman sejawatnya,” ungkap Andi Etty.
Tidak berhenti di situ, SDN Parinring juga merancang kolaborasi literasi yang melibatkan orang tua siswa, pegiat literasi, dan masyarakat luas. Menurut Andi Etty, pihak sekolah meyakini bahwa budaya membaca hanya akan tumbuh kuat jika didukung penuh oleh seluruh pemangku kepentingan (stakeholders).
Bentuk kolaborasi yang diinisiasi bisa beragam, mulai dari donasi dan wakaf buku, gerakan membaca bersama, hingga keterlibatan aktif orang tua dalam mengawal kebiasaan membaca anak di rumah.
Menutup perbincangan terkait Gerakan Literasi Sekolah, Andi Etty menekankan pentingnya membangun konsistensi membaca, menyediakan fasilitas dan bahan bacaan yang memikat, serta menciptakan ekosistem lingkungan yang literat.
”Selain itu, yang tidak kalah penting adalah keteladanan dari guru dan dukungan konkret dari semua pihak. Itulah kunci utama agar budaya literasi ini dapat tumbuh secara berkelanjutan di sekolah,” pungkasnya. ( Ardhy M Basir )
