Sensitivitas Postur APBN Setiap pelemahan rupiah secara otomatis mengubah asumsi makro APBN. Beban subsidi energi (BBM dan listrik) serta pembayaran cicilan pokok dan bunga utang luar negeri dipastikan membengkak. Ini adalah wilayah murni kebijakan fiskal, bukan moneter.
Determinasi Struktur Riil: Mengapa rupiah rentan?
Karena struktur industri domestik masih sangat bergantung pada impor bahan baku dan modal. Tugas membenahi struktur industri dan memberikan insentif ekspor agar defisit transaksi berjalan mengecil adalah wilayah kebijakan fiskal dan sektor riil di bawah koordinasi pemerintah, bukan instrumen suku bunga BI.
Kegagalan Harmonisasi KSSK: Pernyataan yang memisahkan ‘ranah’ seolah menunjukkan pudarnya taji Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Otoritas fiskal dan moneter seharusnya tampil dengan narasi satu pintu yang solid untuk menenangkan pasar, bukan melempar bola panas.
Solusi Strategis: Mendesak Intervensi Multilateral Nasional
Guna meredam guncangan yang lebih masif, diperlukan bauran kebijakan (policy mix) yang agresif dan padu. Bank Indonesia tidak bisa dibiarkan bekerja sendirian menguras cadangan devisa melakukan intervensi pasar atau terus menaikkan suku bunga (BI-Rate) yang berisiko mematikan pertumbuhan kredit sektor riil.
Pemerintah melalui Kementerian Keuangan harus segera mengambil langkah taktis:
Reformulasi APBN Melakukan stress-testing terhadap APBN untuk mengamankan jaring pengaman sosial akibat lonjakan harga pangan dan energi.
Vaksinasi Sektor Riil: Memberikan relaksasi pajak atau insentif fiskal bagi industri padat karya yang berbasis konten lokal tinggi guna mengurangi ketergantungan impor.
Repatriasi Devisa Hasil Ekspor (DHE): Menegakkan aturan penempatan DHE secara lebih rigid dan atraktif agar pasokan likuiditas dolar di dalam negeri melimpah.
”Situasi mendekati Rp18.000 ini adalah ujian bagi soliditas kabinet ekonomi. Pasar tidak butuh pembagian batas wilayah kerja secara kaku, pasar butuh kepastian bahwa pemerintah dan bank sentral berada di ruang kemudi yang sama untuk menyelamatkan perekonomian nasional,” pungkah Dr. Affandy.
