PEDOMANRAKYAT, MANOKWARI – Kemeriahan luar biasa membungkus Kota Manokwari, Papua Barat, pada Jumat (19/6/2026) sore. Karnaval Budaya megah bertajuk “Dari Tanah Papua untuk Indonesia” sukses digelar sebagai bagian dari *kick-off* Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Nasional XIV Tahun 2026. Sebanyak 38 provinsi dari seluruh penjuru tanah air mengirimkan kontingen terbaiknya untuk memamerkan kekayaan warisan budaya nusantara.
Ketua Panitia Pesparawi Nasional XIV, Yacob S. Fonataba, menegaskan bahwa parade budaya ini bukan sekadar tontonan, melainkan momentum krusial bagi masyarakat untuk merayakan keberagaman. Menurutnya, event ini menjadi jembatan emas dalam memperkokoh tali persaudaraan sekaligus merawat kerukunan antarumat beragama di Indonesia. Ia pun menyerukan agar seluruh lapisan masyarakat Papua Barat bersatu padu menyukseskan agenda akbar ini.
“Karnaval ini adalah panggung solidaritas nyata untuk mempertebal iman, mempererat persaudaraan, dan mengokohkan toleransi beragama di Indonesia, khususnya di bumi Papua Barat,” ujar Yacob dengan penuh optimisme.
Dalam kesempatan tersebut, Yacob juga melayangkan apresiasi setinggi-tingginya kepada segenap pihak yang telah menyokong penuh persiapan Pesparawi Nasional XIV yang dijadwalkan berlangsung selama 11 hari, tepatnya dari tanggal 18 hingga 28 Juni 2026. Dukungan tersebut mengalir dari Pemprov Papua Barat, Pemkab Manokwari, jajaran TNI-Polri, Kementerian Agama, hingga elemen masyarakat.
Senada dengan hal itu, Wakil Gubernur Papua Barat, Mohammad Lakotani dalam sambutannya, menilai karnaval budaya ini memegang peranan strategis. Bukan hanya efektif mengikis ego kedaerahan dan memupuk rasa cinta tanah air, parade ini juga menjadi ajang etalase untuk mempromosikan Manokwari sebagai destinasi yang aman, religius, serta penuh kehangatan dalam bingkai toleransi.
“Agenda masif seperti ini sangat vital untuk merekatkan kohesi sosial, membakar semangat nasionalisme lewat budaya, sekaligus menegaskan kepada para tamu dari 38 provinsi bahwa Manokwari dan Papua Barat adalah rumah yang ramah bagi siapa saja,” tutur Lakotani.
Demi kelancaran acara, Lakotani juga menitipkan pesan penting kepada seluruh peserta karnaval agar tetap mengedepankan ketertiban, menjaga kekompakan tim, serta selalu menyelaraskan langkah dengan instruksi dari panitia dan aparat keamanan di lapangan.
Lebih lanjut, ia mengetuk hati masyarakat Papua Barat, utamanya warga lokal Manokwari, untuk bertindak sebagai tuan rumah yang anggun dan suportif. Terlebih, acara pembukaan megah Pesparawi Nasional XIV dijadwalkan helat pada Jumat malam dan rencananya akan dibuka secara resmi oleh Wakil Presiden Republik Indonesia.
“Kehadiran ribuan tamu ini harus kita sambut dengan kesan terbaik. Pastikan mereka menginjakkan kaki di sini dengan senyuman, dan kembali ke kampung halaman mereka dengan senyuman yang sama, sembari membawa memori indah tentang kebaikan Papua Barat,” pintanya.
Bagi Lakotani, mandat yang diberikan oleh pemerintah pusat kepada Papua Barat untuk mengemban status sebagai tuan rumah Pesparawi Nasional XIV merupakan sebuah kehormatan premium. Oleh sebab itu, ia meminta komitmen kolektif dari seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menciptakan atmosfer yang aman, tertib, dan kondusif.
“Mari kita bersatu, bergotong-royong menyukseskan Pesta Paduan Suara Gerejawi Nasional XIV Tahun 2026 di Manokwari,” tegasnya, sebelum akhirnya secara resmi melepas ribuan peserta karnaval untuk memulai parade jalan kaki membelah jalan protokol pusat kota Manokwari sejauh kurang lebih 5 kilometer.
*Ewako Sulsel!*
Di antara puluhan daerah, Kontingen Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) sukses mencuri perhatian dan tampil sebagai salah satu penampil paling membahana. Kekuatan mereka disokong oleh ratusan personel gabungan yang terdiri dari delegasi Pesparawi Sulsel, Pengurus LPPD Sulsel, serta didukung penuh oleh diaspora Sulsel di Papua, seperti Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Papua Barat, Ikatan Keluarga Toraja (IKT) Manokwari, hingga Ikatan Perempuan Toraja (IPT) Manokwari.
Tampil atraktif, kontingen dari Bumi Sawerigading ini memamerkan pesona pakaian adat legendaris dari Suku Bugis, Makassar, dan Toraja. Daya tarik kian berlipat dengan hadirnya miniatur rumah adat Tongkonan yang diarak di atas kendaraan terbuka, mengiringi hentakan dinamis tarian tradisional ketiga suku tersebut, serta gema lagu daerah dan kidung puji-pujian rohani yang dinyanyikan secara serempak.
Aksi panggung jalanan yang disuguhkan oleh perwakilan Sulsel berkolaborasi dengan warga lokal asal Sulsel di Manokwari ini memicu haru dan sukacita mendalam bagi ribuan warga Papua Barat. Penonton yang menyemut dan memadati rute sepanjang 5 kilometer dari garis *start* hingga *finish* terus melambaikan tangan, memberikan salam hangat, sembari berulang kali meneriakkan yel-yel penyemangat, "Sulawesi Selatan..... Ewako!". (*)


