Ada yang menyebut menjelang hari lebaran sangat khas di Indonesia ,jutaan warga mudik atau pulang ke kampung halaman hanya demi merayakan hari lebaran bersama keluarga ,kerabat dan teman di tanah kelahiran . Kalau orang Barat memerlukan berlibur di ujung kerja kerasnya,maka kaum urban Indonesia yang sebelumnya menenun nasib di rantau memilih mudik sebagai titik puncak kulminasi perjalanan tradisi tahunan pulang kampung . Hari lebaran menjadi hari “reuni”keluarga dan kerabat yang meluas dan menasional .
Setiap menjelang lebaran pemerintah harus melakukan langkah antisipatif di banyak sektor mulai angkutan udara ,laut dan darat yang pasti disesaki pemudik . Perbaikan infrastruktur jalan dan jembatan, lonjakan harga kebutuhan pokok dengan menggelar gerakan pangan murah dimana mana untuk merem kelicikan spekulan. .Pusat perbelanjaan, mall ,pasar tradisional dan modern bahkan ada yang terpaksa menjadi pasar tumpah karena transaksi jual beli dilakukan di pinggir jalan raya , semuanya demi lebaran . Meski lebaran tidak meminta, agama juga tidak menganjurkan tetapi agaknya dihari lebaran itulah mulai makanan,busana ,perabot rumahtangga ,bahkan kendaraan dan lainnya sepertinya baru “sah “kalau baru. Padahal disadari atau tidak kita baru saja selesai berpuasa sebagai sarana pendidikan bagaimana mendidik pribadi menjadi insan yang memiliki kemampuan pengendalian diri.
Melalui ibadah puasa ,ummat Islam senantiasa dilatih untuk dapat mengendalikan diri dengan cara mengekang hawa nafsu yang cendrung tidak terkendali .Dengan berpuasa itulah hawa nafsu diletakkan dalam kendali iman . Melaksanakan ibadah puasa adalah pendakian spiritual untuk mendapatkan kesadaran kualitatif dari manusia biasa sehari hari menjadi manusia rohani yang akan menyebarkan kebaikan bersedekah ,berbagi kepada sesamanya. .Mereka membagikan sebagian rezekinya agar saudara kita yang lemah juga terpercik wanginya lebaran. .Berpesta dihari lebaran agaknya sebagai pelampiasan manifestasi lahiriah setelah sebulan penuh melakukan pengendalian diri berpuasa menahan lapar dan dahaga ,merem nafsu biologis disiang hari.
Tradisi mudik dari bahasa Jawa “Mulih Dilik atau Mulih Dhisik “yang berarti pulang sebentar menjadi tradisi tahunan bagi perantau menjelang Idul Fitri. Sebagian merasa terpanggil oleh kewajiban melaksanakan momentum ritual ,memanfaatkan libur kerja ,melaksanakan hajat sungkem kepada orang tua ,bersilaturahmi dengan keluarga dan kerabat di kampung halaman ataukah ziarah kubur .Sungguh bila direnungkan betapa indah akan hikmah yang terbingkai dalam mudik meski harus ditebus dengan fikiran ,tenaga ,waktu dan finansial yang tidak sedikit .Rasanya baru sah bersilaturahmi dan bermaaf - maafan dalam momentum lebaran .
Tampaknya semangat mudik semakin tinggi intensitasnya dan tidak kehilangan pesonanya, meski parantau pulang harus menenteng tas, koper,kardus berisi oleh oleh sebagai bukti dari tanah rantau . Entah sejak kapan proses inkulturasi tradisi tahunan perayaan lebaran harus ditebus begitu mahal ,merogoh kocek dalam dalam . Ada sebagian pejabat ,pengusaha,politisi dan profesi lainnya begitu menghayati dan mengekspresikan momen menjelang lebaran dengan semangat berbagi kepada anak yatim piatu ,konstituen ,panti asuhan dan kaum dhuafa .
Namun sebenarnya setelah berpuasa Ramadhan sebulan penuh, tibalah di hari Raya Idul Fitri dalam suasana yang dikaitkan dengan upaya manusia kembali kepada keadaan aslinya suci dan disitulah ibadah puasa sebagai jalan (syari’ah)untuk kembali ke keadaan yang fitrah.. Bagaimana setelah bulan suci Ramadhan ada nilai tambah bagi kehidupan kerohanian dan kehidupan sosial kita dalam bermasyarakat.
Bersilaturahmi ,berjabat tangan sudah biasa tetapi dilakukan dalam suasana lebaran penuh rasa dan hati yang lega. Meski kemajuan IT sudah bisa berkomunikasi dengan keluarga dan kerabat lewat handphone bisa video call, tetapi tetap saja rasanya lebih afdal kalau ketemu secara fisik ,tradisi mudik telah menggumpal kental di kalangan kaum urban.
Allahu Akbar... ,Allahu Akbar ...,Allahu Akbar ..Walillahilhamd ,Suara takbir dan tahmid menggema ,gemetar tubuh ,gemetar bathin, membangunkan kembali jiwa yang lelap dam bathin yang tidur, menapak tilas perjalanan kemarin yang penuh luka dan alpa .Ya Allah , di bulan Ramadhan sejumlah rangkaian ibadah telah hambaMu tunaikan dan diserahkan untuk dihitung dan diberi nilai .Allahu Akbar ,,, Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1447 H/Sabtu 21 Maret 2026 M ,Salam dan jabat erat ,mohon maaf lahir bathin .(moh sumardy)
