Suwardi Thahir dan Kerinduan Wartawan pada Pemimpin yang Merangkul

Ramzy 8 Pembaca
5 Menit baca

Oleh: Muliadi Saleh (Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran)

KETIKA nama Suwardi Thahir mengemuka dan diterima secara aklamasi sebagai Ketua PWI Sulawesi Selatan periode 2026–2031, yang sesungguhnya berbicara bukan sekadar mekanisme organisasi, melainkan nurani kolektif para wartawan yang sedang merindukan seorang pemimpin yang mampu merangkul, menyatukan, dan mengembalikan organisasi sebagai rumah bersama. Di tengah zaman yang semakin gaduh oleh perbedaan, kerinduan akan kepemimpinan yang meneduhkan sering kali menjadi kebutuhan yang lebih penting daripada sekadar pergantian kepemimpinan itu sendiri.

Aklamasi adalah bahasa kepercayaan. Ia adalah titik temu dari berbagai pandangan yang akhirnya bersepakat pada satu nama. Dalam konteks organisasi, aklamasi merupakan bentuk legitimasi moral yang tidak lahir dalam sehari, melainkan dibangun melalui perjalanan panjang, rekam jejak, integritas, dan konsistensi pengabdian.

Suwardi Thahir tidak hadir sebagai figur yang tiba-tiba muncul menjelang pemilihan. Namanya telah lama dikenal dalam dunia jurnalistik Sulawesi Selatan. Ia tumbuh bersama dinamika profesi wartawan, memahami denyut ruang redaksi, merasakan tantangan kerja jurnalistik, sekaligus terlibat dalam proses pembinaan dan penguatan kompetensi insan pers.

Pengalamannya sebagai penguji kompetensi wartawan memberikan perspektif yang utuh tentang pentingnya profesionalisme dalam dunia jurnalistik. Ia memahami bahwa pers yang kuat tidak hanya lahir dari kebebasan, tetapi juga dari kompetensi, integritas, dan tanggung jawab moral.

Di tengah perubahan zaman yang bergerak sangat cepat, dunia pers menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Disrupsi digital mengubah lanskap media. Informasi bergerak dalam hitungan detik. Kecerdasan buatan mulai mengambil sebagian fungsi yang selama ini dilakukan manusia. Di sisi lain, hoaks, disinformasi, dan polarisasi sosial terus menguji kualitas kerja jurnalistik.

Dalam situasi seperti ini, organisasi profesi tidak cukup hanya menjadi wadah administratif. Ia harus menjadi rumah pembelajaran, ruang kolaborasi, pusat penguatan kompetensi, sekaligus benteng etika profesi.

Karena itulah, pernyataan Suwardi Thahir yang ingin menjadikan PWI Sulawesi Selatan sebagai organisasi yang inklusif dan tidak eksklusif memiliki makna yang sangat strategis. Inklusivitas bukan sekadar konsep organisasi modern. Ia adalah fondasi bagi tumbuhnya kepercayaan.

Organisasi yang sehat adalah organisasi yang membuka ruang bagi semua anggotanya untuk berpartisipasi. Ia tidak membangun tembok pemisah antara senior dan junior, antara kelompok yang satu dengan kelompok lainnya. Sebaliknya, ia membangun jembatan yang memungkinkan semua energi positif bertemu dan bergerak menuju tujuan yang sama.

1
2TAMPILKAN SEMUA
Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Exit mobile version