Melalui lensa ekoteologi, merawat alam semesta dinilai sebagai manifestasi nyata dari ibadah dan doktrin keagamaan. Pendekatan religius ini menegaskan bahwa menjaga ekosistem bukan sekadar kewajiban sosial kemasyarakatan, melainkan panggilan moral serta spiritual yang mendalam.
Kementerian Agama pun tak henti-hentinya meniupkan roh kesadaran ekologis ini ke tengah-tengah umat. Setiap perhelatan hari besar maupun agenda keagamaan kini dituntut mengadopsi konsep ‘green event’, yang berfokus pada pengurangan sampah plastik serta pemanfaatan energi secara bijak.
“Menjaga keasrian bumi merupakan refleksi rasa syukur kita kepada Sang Pencipta. Kami menaruh harapan besar agar para peserta Pesparawi bisa menjadi motor penggerak dan teladan dalam gaya hidup hijau ini,” tambah Stevi.
Sebagai informasi, Pesparawi Nasional XIV yang dihelat di Manokwari, Papua Barat, tidak hanya berdiri sebagai panggung megah festival paduan suara gerejawi terbesar di Indonesia. Event ini juga bertransformasi menjadi ruang edukasi massal untuk membangun kesadaran kolektif masyarakat akan pentingnya kelestarian lingkungan.
Melalui aksi nyata menolak plastik sekali pakai, setiap peserta diharapkan menorehkan kontribusi positif bagi kesucian tanah, sungai, dan lautan Papua. Sebuah langkah kecil yang diyakini bakal melahirkan perubahan raksasa jika digerakkan bersama oleh ribuan manusia yang hadir di sana. (*)
