Menggema di Kancah Global: Raja dan Sultan Nusantara sebagai Jangkar Peradaban, Diplomasi, dan Jati Diri Bangsa

Ramzy
Ramzy 613 Pembaca
7 Menit baca

Follow Pedomanrakyat.co.id untuk mendapatkan informasi terkini.

Klik WhatsApp Channel  |  Google News

Oleh: YMT. Sjahrir Bintamsi (Ketua DPD-FKN Provinsi Sulbar)

Di tengah pusaran globalisasi yang bergerak cepat dan pergeseran modernitas dunia, eksistensi para Raja dan Sultan Nusantara tetap berdiri tegak dengan posisi yang krusial, strategis, dan sarat makna. Entitas kerajaan dan kesultanan di tanah air bukanlah sekadar pajangan romantis dari memori masa lalu, melainkan fondasi peradaban nyata yang pernah menggerakkan roda geopolitik, jalur diplomasi internasional, perniagaan dunia, hingga mengarsiteki lahirnya identitas kebangsaan Indonesia.

Dalam konstelasi global, para pemimpin adat ini diakui sebagai aktor sejarah yang memegang teguh legitimasi kultural, pengaruh sosial yang mengakar, serta warisan nilai yang terus hidup di sanubari masyarakat. Kehadiran mereka bertindak sebagai tali pengikat yang menghubungkan kejayaan masa lampau dengan kompleksitas serta dinamisnya tantangan peradaban modern saat ini.

Kerajaan Nusantara dan Diplomasi Dunia

Lembar sejarah telah membuktikan bahwa jauh sebelum fajar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menyingsing, berbagai kerajaan dan kesultanan di seantero Nusantara telah aktif merajut hubungan diplomatik dengan kekuatan-kekuatan besar dunia. Realitas ini menegaskan bahwa sejak dahulu kala, kepulauan ini bukanlah wilayah yang terasing, melainkan episentrum penting dari jaringan peradaban global.

Sebut saja Kesultanan Aceh Darussalam, yang membina kemitraan strategis dengan Kekaisaran Turki Usmani. Hubungan bilateral ini tidak hanya berkelindan di ranah spiritual, tetapi juga meluas hingga kerja sama politik, pakta pertahanan, dan urusan dagang internasional. Sementara itu, Kesultanan Banten dan Mataram secara khusus mengutus delegasi ke Timur Tengah demi mengukuhkan gelar “Sultan”—sebuah bentuk pengakuan internasional dalam peta geopolitik dunia Islam kala itu.

Menengok catatan perjalanan musafir legendaris Ibnu Battuta, Samudera Pasai digambarkan sebagai mercusuar studi Islam yang maju dan disegani secara global. Fakta sejarah ini menjadi bukti autentik bahwa Nusantara pernah menjadi salah satu poros utama dalam perkembangan ilmu pengetahuan, jalur niaga, serta penyebaran peradaban Islam di kawasan Asia Tenggara.

Baca juga :  Dihadiri 200 Peserta, Rakor RAPI Sulsel Bahas Program Kerja dan Kesiapsiagaan Bencana

Bergerak ke wilayah timur, Kesultanan Tidore di bawah komando Sultan Nuku menjelma sebagai kekuatan geopolitik yang sangat diperhitungkan dunia. Kepiawaian diplomasi serta taktik perlawanan gigih Sultan Nuku terhadap cengkeraman kolonial Eropa menunjukkan bahwa kerajaan tradisional kita memiliki taji politik dan militer yang mumpuni dalam percaturan global di zamannya.

Melihat rekam jejak tersebut, kerajaan dan kesultanan di Nusantara sejatinya telah menancapkan tonggak diplomasi internasional yang kokoh, jauh sebelum konsep negara modern seperti yang kita kenal hari ini lahir dan berkembang.

Penjega Warisan Budaya dan Identitas Kultural

Dalam konteks kekinian, figur Raja dan Sultan Nusantara tidak lagi dipandang dari sudut pandang kekuasaan politik murni, melainkan sebagai benteng pertahanan nilai-nilai luhur, adat istiadat, serta penjaga orisinalitas identitas budaya bangsa.

Menghadapi derasnya arus perubahan sosial yang begitu masif, keberadaan lembaga adat dan kerajaan memegang peran vital dalam menjamin keberlanjutan nilai-nilai peradaban. Mulai dari tradisi, kelestarian bahasa daerah, khazanah seni, sistem kekerabatan, hingga filosofi hidup masyarakat adat tetap terjaga murni berkat dedikasi para Pemangku Adat, Raja, dan Sultan di berbagai sudut negeri.

Lebih dari itu, kehadiran mereka berfungsi sebagai magnet pemersatu yang melintasi sekat generasi. Melalui berbagai panggung budaya, baik di level nasional maupun internasional, para Raja dan Sultan Nusantara tak lelah menyuarakan pesan perdamaian, toleransi, semangat gotong royong, dan keselarasan sosial sebagai kekayaan hakiki peradaban Indonesia.

Kerajaan dan kesultanan tradisional ini juga memberikan kontribusi yang tak ternilai dalam merawat kebinnekaan budaya Nusantara yang amat kaya. Mereka hadir sebagai representasi moral dan kultural bagi masyarakat adat yang berjuang mempertahankan prinsip hidup mereka di tengah gempuran modernisasi yang kerap mencabut akar tradisi lokal.

1
2TAMPILKAN SEMUA
Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar
error: Content is protected !!