Pada masa pengabdiannya, Karno tanpa sengaja terlibat dalam konflik perang santet khas suku Dayak. Kisah konflik dalam novel ini dipenuhi praktik-praktik mistisme seperti ilmu gaib, hubungan manusia dengan roh. Juga ritual-ritual adat yang mencerminkan cara pandang masyarakat Dayak terhadap dunia supranatural.
Masalah yang diungkap Ningsih, lulusan S-1 Universitas Mulawarman Samarinda tahun 2022, bagaimana praktik mistisisme Dayak direpresentasikan di dalam novel tersebut berdasarkan pendekatan Niels Mulder? Masalah kedua, bagaimana nilai-nilai budaya masyarakat Dayak yang tecermin dalam novel tersebut.
Alumnus SMA Negeri 1 Kaliorang tahun 2017 ini menyebutkan, dari kedua rumusan masalah tersebut bertujuan mendeskripsikan praktik-praktik mistisisme Dayak dan juga memaparkan nilai-nilai budaya masyarakat Daya yang tecermin di dalam novel ini.
Ningsih menyimpulkan di dalam tesisnya, representasi mistisisme Dayak di dalam novel Achmad Benbela ini menampilkan pola bertahap. Berawal tahap dasar, yaitu syariat yang dibuktikan melalui tindakan kepatuhan terhadap leluhur. Keyakinan terhadap benda pusaka, pemaknaan ruang keramat, dan kepercayaan terhadap figur berotoritas gaib.
Tahap selanjutnya, yaitu tarekat yang direpresentasikan melalui ritual-ritual terstruktur yang melibatkan penggunaan mantra dan media sakral sebagai sarana untuk berinteraksi dengan kekuatan gaib. Praktik-praktik tersebut menunjukkan bahwa mistisisme tidak selalu hadir dalam bentuk ritual kompleks, tetapi juga muncul dalam tindakan sehari-hari.
“Dengan demikian, praktik mistisisme dalam konteks tersebut dipahami sebagai bagian dari sistem budaya yang mengatur hubungan manusia dengan alam, leluhur, dan kekuatan gaib,” kata Ningsih.
Selain praktik mistisisme, novel “Perang Maya: Perang Santet di Tanah Keramat” juga memuat nilai-nilai budaya Dayak yang mencakup hubungan manusia dengan Tuhan, alam, masyarakat, orang lain, dan diri sendiri.
“Menariknya, nilai-nilai tersebut tidak selalu ditampilkan sebagai nilai ideal, tetapi juga muncul melalui ketegangan maupun refleksi diri para tokoh,” ungkap Ningsih.
Pertama, relasi dengan Tuhan tampak melalui kepercayaan dan peran leluhur dalam ritual. Kedua, relasi dengan alam melalui sikap hormat dan pemanfaatan unsur-unsur alam dalam praktik mistisisme. Ketiga, hubungan manusia dengan masyarakat melalui gotong royong, masyarakat, dan denda adat. Keempat, relasi antarindividu melalui konflik dan upaya pemulihan, Kelima, relasi dengan diri sendiri melalui kewaspadaan, kesadaran, dan penyesalan sebagai bentuk refleksi diri.
“Dengan demikian, nilai budaya dalam karya sastra tidak bersifat mutlak, tetapi bergantung pada konteks masalah dan perjalanan hidup yang dialami setiap tokohnya. (mda)

