Mengharukan, Sulasti Ningsih Raih Magister

Ramzy 24 Pembaca
6 Menit baca

PEDOMANRAKYAT, MAKASSAR - Inilah ujian yang mengharukan sepanjang saya menguji di Universitas Hasanuddin. Senin (15/6/2026), Sulasti Ningsih menjalani ujian tutup dengan mempertahankan tesis yang berjudul “Representasi Mistisisme dalam Nilai Budaya Dayak pada Novel “Perang Maya: Perang Santet di Tanah Keramat” Karya Achmad Benbela”.

Prof. Dr. Fathu Rahman, M.Hum yang bertindak sebagai Ketua Penasihat didampingi Prof.Dr. A.B. Takko Bandung, M.Hum sebagai Anggota Penasihat membuka acara ujian dengan meminta Sulasti Ningsih yang mengenakan jaket merah, berdiri.

“Sebelum kita memulai ujian ini marilah kita menundukkan kepala sejenak, berdoa untuk kedua Guru Besar FIB Unhas yang telah mendahului kita, yakni Prof.Dr. Lukman, M.S. dan Prof.Dr. Amir P.,M.Hum.” pinta Prof. Fathu Rahman diikuti terdengar suaranya membaca Surah Al Fatihah.

Mendengar ajakan tersebut, saya yang bertindak sebagai Anggota Penilai (Penguji) dengan Dr. M. Safri Badaruddin, M.Hum, merasakan aroma yang lain suasana ujian ini. Perasaan saya mulai agak lain. Dilanda haru. Soalnya, dari tiga penguji hari itu, mestinya terdapat nama Prof.Dr.Amir P., M.Hum yang tentu saja mustahil membersamai kami hari itu.

Pada saat Prof. Fathu Rahman mengumumkan yudisium Sulasti Ningsih dengan nilai A hasil akumulasi seminar proposal, seminar hasil, dan ujian tutup, dengan predikat “sangat memuaskan”, Sulasti Ningsih yang ada di sebelah kanan saya langsung terisak. Saya yang masih belum ‘siuman’ dari perasaan sedih akibat mengenang kedua adinda buru besar yang mendahului itu, juga ikut larut dalam suasana haru yang untuk pertama kali dalam sejarah menguji mahasiswa.

Suasana ini semakin ‘tidak terkendali’ karena saat foto bersama dengan Sulasti Ningsih, S.S. M.Hum, saya diminta memberi kesan sembari dalam rekaman video. Saya beberapa detik berhenti sembari mencoba mengembalikan perasaan menjadi normal.
“Begitu berat suasana ujian ini di tengah ketiadaan dua orang mahaguru dan seorang di antaranya harus membersamai kami sebagai penilai,” saya membatin.

Perang Santet

Ningsih, begitu gadis kelahiran Selangkau Kabupaten Kutai Timur Kalimantan Timur 25 Juli 1998 akrab disapa, memilih judul tesis yang memang sangat menarik. Novel yang terbit tahun 2022 dengan tebal 214 halaman ini, memang bergenre horor dan diterbitkan Gagas Media.

Novel ini berlatar belakang tahun 2000-an dan mengisahkan dari dua sudut pandang karakter utama, Karno dan Salunduk. Karno merupakan seorang transmigran Jawa yang berprofesi sebagai guru di pedalaman hulu Sungai Barito Kalimatan Tengah. Salundik merupakan kepala sekolah, tempat Karno mengajar dan dipercaya memiliki kemampuan menyembuhkan penyakit, seperti gangguan makhluk halus.

Pada masa pengabdiannya, Karno tanpa sengaja terlibat dalam konflik perang santet khas suku Dayak. Kisah konflik dalam novel ini dipenuhi praktik-praktik mistisme seperti ilmu gaib, hubungan manusia dengan roh. Juga ritual-ritual adat yang mencerminkan cara pandang masyarakat Dayak terhadap dunia supranatural.

Masalah yang diungkap Ningsih, lulusan S-1 Universitas Mulawarman Samarinda tahun 2022, bagaimana praktik mistisisme Dayak direpresentasikan di dalam novel tersebut berdasarkan pendekatan Niels Mulder? Masalah kedua, bagaimana nilai-nilai budaya masyarakat Dayak yang tecermin dalam novel tersebut.

Alumnus SMA Negeri 1 Kaliorang tahun 2017 ini menyebutkan, dari kedua rumusan masalah tersebut bertujuan mendeskripsikan praktik-praktik mistisisme Dayak dan juga memaparkan nilai-nilai budaya masyarakat Daya yang tecermin di dalam novel ini.

Ningsih menyimpulkan di dalam tesisnya, representasi mistisisme Dayak di dalam novel Achmad Benbela ini menampilkan pola bertahap. Berawal tahap dasar, yaitu syariat yang dibuktikan melalui tindakan kepatuhan terhadap leluhur. Keyakinan terhadap benda pusaka, pemaknaan ruang keramat, dan kepercayaan terhadap figur berotoritas gaib.

Tahap selanjutnya, yaitu tarekat yang direpresentasikan melalui ritual-ritual terstruktur yang melibatkan penggunaan mantra dan media sakral sebagai sarana untuk berinteraksi dengan kekuatan gaib. Praktik-praktik tersebut menunjukkan bahwa mistisisme tidak selalu hadir dalam bentuk ritual kompleks, tetapi juga muncul dalam tindakan sehari-hari.
“Dengan demikian, praktik mistisisme dalam konteks tersebut dipahami sebagai bagian dari sistem budaya yang mengatur hubungan manusia dengan alam, leluhur, dan kekuatan gaib,” kata Ningsih.

Selain praktik mistisisme, novel “Perang Maya: Perang Santet di Tanah Keramat” juga memuat nilai-nilai budaya Dayak yang mencakup hubungan manusia dengan Tuhan, alam, masyarakat, orang lain, dan diri sendiri.

“Menariknya, nilai-nilai tersebut tidak selalu ditampilkan sebagai nilai ideal, tetapi juga muncul melalui ketegangan maupun refleksi diri para tokoh,” ungkap Ningsih.

Pertama, relasi dengan Tuhan tampak melalui kepercayaan dan peran leluhur dalam ritual. Kedua, relasi dengan alam melalui sikap hormat dan pemanfaatan unsur-unsur alam dalam praktik mistisisme. Ketiga, hubungan manusia dengan masyarakat melalui gotong royong, masyarakat, dan denda adat. Keempat, relasi antarindividu melalui konflik dan upaya pemulihan, Kelima, relasi dengan diri sendiri melalui kewaspadaan, kesadaran, dan penyesalan sebagai bentuk refleksi diri.

“Dengan demikian, nilai budaya dalam karya sastra tidak bersifat mutlak, tetapi bergantung pada konteks masalah dan perjalanan hidup yang dialami setiap tokohnya. (mda)

Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Exit mobile version