Mengharukan, Sulasti Ningsih Raih Magister

Ramzy 41 Pembaca
6 Menit baca

PEDOMANRAKYAT, MAKASSAR – Inilah ujian yang mengharukan sepanjang saya menguji di Universitas Hasanuddin. Senin (15/6/2026), Sulasti Ningsih menjalani ujian tutup dengan mempertahankan tesis yang berjudul “Representasi Mistisisme dalam Nilai Budaya Dayak pada Novel “Perang Maya: Perang Santet di Tanah Keramat” Karya Achmad Benbela”.

Prof. Dr. Fathu Rahman, M.Hum yang bertindak sebagai Ketua Penasihat didampingi Prof.Dr. A.B. Takko Bandung, M.Hum sebagai Anggota Penasihat membuka acara ujian dengan meminta Sulasti Ningsih yang mengenakan jaket merah, berdiri.

“Sebelum kita memulai ujian ini marilah kita menundukkan kepala sejenak, berdoa untuk kedua Guru Besar FIB Unhas yang telah mendahului kita, yakni Prof.Dr. Lukman, M.S. dan Prof.Dr. Amir P.,M.Hum.” pinta Prof. Fathu Rahman diikuti terdengar suaranya membaca Surah Al Fatihah.

Mendengar ajakan tersebut, saya yang bertindak sebagai Anggota Penilai (Penguji) dengan Dr. M. Safri Badaruddin, M.Hum, merasakan aroma yang lain suasana ujian ini. Perasaan saya mulai agak lain. Dilanda haru. Soalnya, dari tiga penguji hari itu, mestinya terdapat nama Prof.Dr.Amir P., M.Hum yang tentu saja mustahil membersamai kami hari itu.

Pada saat Prof. Fathu Rahman mengumumkan yudisium Sulasti Ningsih dengan nilai A hasil akumulasi seminar proposal, seminar hasil, dan ujian tutup, dengan predikat “sangat memuaskan”, Sulasti Ningsih yang ada di sebelah kanan saya langsung terisak. Saya yang masih belum ‘siuman’ dari perasaan sedih akibat mengenang kedua adinda buru besar yang mendahului itu, juga ikut larut dalam suasana haru yang untuk pertama kali dalam sejarah menguji mahasiswa.

Suasana ini semakin ‘tidak terkendali’ karena saat foto bersama dengan Sulasti Ningsih, S.S. M.Hum, saya diminta memberi kesan sembari dalam rekaman video. Saya beberapa detik berhenti sembari mencoba mengembalikan perasaan menjadi normal.
“Begitu berat suasana ujian ini di tengah ketiadaan dua orang mahaguru dan seorang di antaranya harus membersamai kami sebagai penilai,” saya membatin.

Perang Santet

Ningsih, begitu gadis kelahiran Selangkau Kabupaten Kutai Timur Kalimantan Timur 25 Juli 1998 akrab disapa, memilih judul tesis yang memang sangat menarik. Novel yang terbit tahun 2022 dengan tebal 214 halaman ini, memang bergenre horor dan diterbitkan Gagas Media.

Novel ini berlatar belakang tahun 2000-an dan mengisahkan dari dua sudut pandang karakter utama, Karno dan Salunduk. Karno merupakan seorang transmigran Jawa yang berprofesi sebagai guru di pedalaman hulu Sungai Barito Kalimatan Tengah. Salundik merupakan kepala sekolah, tempat Karno mengajar dan dipercaya memiliki kemampuan menyembuhkan penyakit, seperti gangguan makhluk halus.

1
2TAMPILKAN SEMUA
Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Exit mobile version