PEDOMANRAKYAT, SINJAI — Peringatan Hari Lahir ke-100 Nahdlatul Ulama (NU) tahun 2026 menjadi momentum penting untuk menelusuri kembali jejak para ulama pendiri yang telah meletakkan fondasi kuat bagi perjalanan organisasi, termasuk di Kabupaten Sinjai.
Salah satu tokoh sentral yang dikenang adalah K.H. Muh. Tahir, atau sering dikenal Puang Kali Taherong, ulama kharismatik yang menjadi pelopor berdirinya NU di daerah ini. Ia lahir pada tahun 1884 dari garis keturunan bangsawan dan ulama terkemuka.
Ia merupakan putra A. Abd Rachman Dg. Patawa (Sullewatang Lamatti), cucu dari Andi Baso Cilelang Dg. Siabeng (Arung Lamatti), serta Andi Besse Tarasu dari Kajuara Bone. Latar belakang keluarga ini menjadi fondasi awal dalam membentuk karakter kepemimpinan dan keilmuannya.
Perjalanan intelektualnya dimulai dari pendidikan Sekolah Rakyat di Balangnipa selama empat tahun. Semangat menuntut ilmu membawanya melanjutkan pendidikan pesantren pada tahun 1909, hingga akhirnya menimba ilmu di Tanah Suci Makkah, tepatnya di Masjidil Haram, hingga tahun 1914.
Bahkan, ia juga pernah melanjutkan studi ke Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir, sebuah capaian langka pada masanya.
Dalam perjalanan kariernya, K.H. Muh. Tahir pernah mengemban berbagai amanah penting. Ia tercatat sebagai Anjun Jaksa di Sinjai pada tahun 1916–1917, kemudian menjabat sebagai Kalhi Lamatti pada 1923–1951. Setelah itu, ia dipercaya sebagai Penghulu Muda sekaligus Kepala Bagian Kepenghuluan di Kantor Urusan Agama Kabupaten Sinjai pada periode 1961–1964.
Perannya dalam organisasi keagamaan juga sangat menonjol. Pada masa pendudukan Jepang, ia memimpin Jamiatul Warrayan di Sinjai. Pasca kemerdekaan, ia menjadi Ketua Rabitatul Ulama yang kemudian bertransformasi menjadi Nahdlatul Ulama.
