Menjelang Lebaran, Harga Melonjak: Dari Pasar Terong hingga Pabaeng-Baeng

Ramzy
Ramzy 715 Pembaca
4 Menit baca

Follow Pedomanrakyat.co.id untuk mendapatkan informasi terkini.

Klik WhatsApp Channel  |  Google News

Oleh : Ardhy M Basir

Pagi itu di Pasar Terong, Makassar, suara tawar-menawar terdengar lebih cepat dari biasanya. Bukan karena pembeli semakin lihai, tapi karena waktu seperti dikejar. Lebaran tinggal sehari—dan harga, perlahan tapi pasti, ikut berlari.

Di salah satu sudut pasar, seorang ibu rumah tangga menatap ayam potong dengan raut ragu. “Kemarin masih seratus ribu, sekarang dua ratus,” keluhnya pelan. Lonjakan harga ayam dari Rp100.000 menjadi Rp200.000 per ekor pada Jumat, 20 Maret 2026, menjadi cerita yang berulang di banyak lapak. Bukan sekadar angka—ini soal dapur yang harus tetap mengepul dihari raya.

Padahal, jika ditarik ke awal Ramadan, kondisi pasar masih relatif tenang. Harga ayam pedaging saat itu bahkan berada di kisaran Rp38.000 per kilogram, masih di bawah harga acuan pemerintah.

Namun seperti pola tahunan yang sulit dielakkan, mendekati Lebaran, permintaan melonjak—dan harga ikut terdorong naik.

Dari Stabil ke Bergejolak

Di Pasar Terong, harga-harga sebelumnya sempat berada dalam kondisi “aman”. Beras medium dijual sekitar Rp13.450/kg, beras premium Rp14.900/kg, sementara daging sapi berada di kisaran Rp130.000/kg.

Cabai rawit yang awalnya berada di kisaran Rp50.000–Rp55.000/kg mulai merangkak naik, bahkan sempat menyentuh Rp60.000–Rp70.000/kg di beberapa titik.

Bawang merah dan bawang putih relatif stabil di angka Rp35.000/kg—angka yang tampak “tenang”, tapi bagi banyak keluarga tetap terasa berat ketika dibeli bersamaan dengan kebutuhan lain.

Namun ketenangan itu perlahan retak. Mendekati puncak konsumsi Lebaran, pola klasik kembali terulang: harga melonjak lebih cepat daripada kemampuan daya beli masyarakat.

Pasar Pabaeng-Baeng dan Pannampu: Antara Stabilitas dan Tekanan

Di Pasar Pabaeng-Baeng, pemerintah sempat mencatat harga masih relatif stabil pada awal Februari. Beras SPHP dijual sekitar Rp12.500/kg, cabai rawit Rp45.000–Rp50.000/kg, serta bawang merah dan putih di kisaran Rp35.000/kg.

Baca juga :  Kejari Selayar Tinjau Lokasi Sengketa Gudang Kopra

Artinya, secara struktural, pasokan sebenarnya tidak bermasalah. Bahkan pemerintah menyebut harga di Makassar cenderung lebih rendah dibanding rata-rata nasional pada periode tersebut.

Namun realitas di lapangan seringkali lebih kompleks. Di Pasar Pannampu dan pasar-pasar lingkungan lainnya, kenaikan harga tidak selalu seragam, tapi terasa simultan—sedikit demi sedikit, lalu tiba-tiba menjadi berat.

Lebaran dan Psikologi Pasar

Yang terjadi bukan semata soal distribusi atau stok. Lebaran adalah momentum emosional. Semua orang ingin menyajikan yang terbaik di meja makan: opor ayam, rendang, sambal pedas, dan kue-kue yang penuh kenangan.

Permintaan tidak hanya naik—ia melonjak serentak.

Pedagang membaca itu. Distributor merasakannya. Rantai pasok ikut menegang.

Di titik inilah pasar berubah dari sekadar tempat transaksi menjadi ruang negosiasi antara kebutuhan dan kemampuan.

Ketika Angka Menjadi Cerita

Kenaikan harga ayam dua kali lipat bukan sekadar statistik. Ia adalah cerita tentang:

• Ayah yang menambah jam kerja
• Ibu yang mengurangi belanja lain
• Anak-anak yang mungkin tak lagi mendapat menu favorit

Di tengah narasi besar tentang “harga terkendali” dan “stok aman”, selalu ada cerita kecil yang luput dari laporan resmi.

Lebaran yang Tetap Datang

Lebaran tidak pernah menunggu harga stabil. Ia tetap datang, membawa takbir dan harapan.

Di pasar-pasar Makassar—Terong, Pabaeng-Baeng, hingga Pannampu—orang-orang tetap berbelanja, meski dengan perhitungan yang lebih panjang.

Karena pada akhirnya, Lebaran bukan hanya soal apa yang tersaji di meja.
Tapi tentang bagaimana setiap keluarga berjuang agar kebersamaan tetap terasa utuh, meski harga terus naik tanpa kompromi.

Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar
error: Content is protected !!