“Mimpi kami adalah membangun klaster. Contohnya kakao, kopi, mente, tebu yang demand-nya tinggi di tingkat dunia. Ahli tebu, ahli kakao, ahli bawang putih dan hortikultura kita tempatkan di situ. Anggarannya ada,” jelas Mentan Amran.
Menurutnya, komoditas seperti kedelai dan bawang putih menjadi prioritas pengembangan karena masih memiliki ruang besar untuk meningkatkan produktivitas dan mengurangi ketergantungan impor.
“Yang mendasar sekarang adalah kedelai, bawang putih, kakao, mente. Ini kita selesaikan dengan cepat. Untuk bawang putih kita ditargetkan bisa mencapai produktivitas 35 ton per hektare. Ini angka yang fantastis sehingga riset harus benar-benar kita perkuat untuk mendukung pencapaian target tersebut,” tegas Mentan Amran.
Mentan Amran juga menjelaskan bahwa pengembangan komoditas akan dilakukan berdasarkan keunggulan komparatif masing-masing daerah. Untuk bawang putih misalnya, pengembangan akan difokuskan di wilayah yang memiliki agroklimat dan budaya budidaya yang sesuai seperti Sembalun di Nusa Tenggara Barat, Sumatera Utara, dan Temanggung di Jawa Tengah.
“Kita mengembangkan komoditas berdasarkan keunggulan suatu wilayah. Iklimnya cocok, agroklimatnya sesuai, budaya masyarakatnya mendukung, maka kita kembangkan di situ dan para peneliti kita turunkan langsung. Jadi menjadi satu kesatuan antara riset dan implementasi di lapangan,” katanya.
Mentan Amran optimistis kemampuan para peneliti Indonesia mampu menghasilkan inovasi yang tidak kalah dengan negara-negara maju. Ia mencontohkan varietas padi IPB 3S yang mampu menghasilkan produktivitas hingga 9 ton per hektare bahkan mencapai 13 ton per hektare pada kondisi tertentu.
“Kami ke China itu hanya 7,4 ton. Kami ke Amerika itu 8,6 ton. Jadi kita harus percaya pada para peneliti kita sendiri,” ujar Mentan Amran.
Sementara itu, Kepala BRIN menyampaikan bahwa lembaganya saat ini telah menghasilkan banyak inovasi yang siap mendukung transformasi pertanian Indonesia. Berbagai hasil riset tersebut mencakup pengembangan varietas unggul tahan perubahan iklim, teknologi mesin pertanian, kecerdasan artifisial (AI), genomik, robotik, hingga sistem pertanian cerdas atau smart farming.
“Alhamdulillah hasil-hasil riset dari BRIN saat ini sudah sangat banyak, termasuk varietas-varietas baru yang bisa mengatasi masalah perubahan iklim. Selain itu, banyak bidang nonpertanian yang bisa mendukung pertanian seperti mesin pertanian, AI, genomik, robotik, dan smart farming yang membutuhkan disiplin ilmu yang lebih luas lagi,” ujarnya.
Kepala BRIN menegaskan bahwa pembangunan pertanian modern membutuhkan dukungan keilmuan lintas disiplin. Karena itu, seluruh kapasitas riset yang dimiliki BRIN akan diarahkan untuk mendukung agenda besar pembangunan pertanian nasional.
“Oleh karena itu dengan kolaborasi ini insyaallah ilmu-ilmu yang ada di BRIN dan para periset lintas disiplin yang ada di BRIN bisa kita kerahkan untuk mendukung suksesnya pembangunan pertanian di Indonesia,” katanya.
Melalui sinergi yang semakin kuat antara Kementan dan BRIN, pemerintah optimistis inovasi dan teknologi pertanian akan berkembang lebih cepat, memperkuat produktivitas berbagai komoditas strategis, meningkatkan kesejahteraan petani, serta mempercepat terwujudnya swasembada pangan dan hilirisasi pertanian yang berkelanjutan. (*)
