Acara resmi dibuka oleh Luksen Jems Mayor yang dalam arahannya menggarisbawahi bahwa peran dewan juri melampaui sekadar penilaian teknis vokal dan harmoni. Ia menegaskan bahwa tugas ini adalah sebuah panggilan iman; sebuah amanah spiritual yang pertanggungjawabannya tidak hanya kepada publik, namun langsung di hadapan Tuhan.
Luksen mengingatkan bahwa setiap melodi yang dilombakan dalam Pesparawi adalah bentuk pengagungan kepada Sang Pencipta. Oleh karena itu, integritas tanpa kompromi serta penerapan nilai-nilai Kristiani harus menjadi fondasi utama bagi setiap juri dalam memberikan penilaian di atas panggung nanti.
Lebih jauh, ia memberikan sorotan khusus pada signifikansi pelaksanaan Pesparawi XIV yang akan bertempat di Papua. Baginya, ajang kali ini bukan sekadar rutinitas tiga tahunan, melainkan sebuah pertaruhan kehormatan dan martabat umat Kristiani, khususnya bagi masyarakat Papua yang berkomitmen menjadi tuan rumah yang luar biasa.
“Penyelenggaraan di Papua memiliki nilai historis dan emosional yang kuat. Ini adalah momentum untuk mengangkat martabat masyarakat Papua melalui simfoni pujian, dan semangat persatuan ini harus kita jaga hingga hari pelaksanaan,” tambahnya.
Konsultasi ini diharapkan mampu mengunci sinergi yang solid antara penyelenggara dan pengadil lapangan. Dengan persiapan matang ini, Pesparawi Nasional XIV 2026 diprediksi akan menjadi standar baru kesuksesan festival keagamaan yang membawa dampak transformasi spiritual bagi umat Kristen di seluruh Indonesia. (*)

