Oleh : H Hasaruddin, Guru Besar UIN Alauddin Makassar
Setiap yang bernyawa pasti akan kembali kepada Sang Pencipta. Hanya saja, tidak semua orang mengetahui kapan ia akan kembali ke kampung abadi menemui penciptanya.
Semalam, sambil mengikuti halalbihalal yang dilaksanakan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar, kami kedatangan kerabat yang berkunjung ke rumah mertua.
Sebagaimana biasa, silaturahmi merupakan ajang mencurahkan isi pengalaman selama berada di kota besar dan suasana saat berada di kampung halaman. Salah satu obrolan yang menarik adalah ceritera tentang kematian.
Kerabat yang berkunjung ke rumah tersebut, yang juga keponakan mertua saya berceritera, di akhir bulan suci Ramadan, beliau masih sempat mengadakan rapat bersama Pak Darwis (staf khusus JK) membahas banyak hal tentang persiapan menghadapi Idul Fitri, salah satunya tentang pembagian zakat dan infaq.
Pak Darwis seorang yang energik, gesit, dan telaten dalam melaksanakan amanah yang diberikan kepada beliau. Konon, Pak Darwis orangnya sehat wal afiat, hingga akhirnya Allah SWT memanggil beliau di hari yang fitrah dan meninggal saat melaksanakan shalat Id Fitri.
Beliau juga berceritera tentang almarhum, Abdul Rahman, salah seorang alumni IAIN Alauddin yang juga pernah bertugas sebagai hakim di beberapa kantor pengadilan tempat beliau mengabdi.
Pak Rahman (nama yang sering saya sapa, dan kebetulan saya akrab dengan beliau) meninggal ketika berada di rumah sakit, yang sebelumnya terjatuh saat menunaikan ibadah Salat Magrib berjamaah. Konon, banyak masyarakat kecil sangat merasakan kehilangan dengan kepergian beliau.
Qomaruddin Hidayat pernah menulis, kematian merupakan misteri yang sangat menakutkan. Makanya, sebagian masyarakat masih menganggap tabu untuk berbicara tentang kematian. Sekalipun orang tua yang sakit sudah dalam keadaan kritis, para dokter dan anggota keluarganya tidak berani dan merasa tidak etis untuk membuat prediksi dan analisis tentang datangnya ajal.
Kematian merupakan sebuah keniscayaan yang mengakhiri untuk selamanya desah napas dan langkah hidup seseorang. Kematian mendesakkan sebuah pertanyaan dan kesadaran baru akan sebuah misteri agung eksistensi manusia.
Ia ibarat lampu kecil di tengah malam yang pekat, dan manusia bagaikan seekor laron yang datang mendekati sebersit cahaya lampu di malam yang gelap tak bertepi. Begitu dekat tiba-tiba matanya silau, lalu menggelepar. Ada yang lunglai mati kepanasan, dan ada lagi yang menerobos gelapnya malam, entah kemana.
Terlalu kecil cahaya lampu itu untuk menerangi luasnya jagat raya ini. Terlalu kecil seekor laron dibanding luasnya hamparan langit dan bumi dengan seluruh isinya. Manusia datang entah dari mana, dan pergi entah ke mana. Semua orang lupa akan peristiwa kelahirannya. Tetapi setiap manusia sangat sadar dan dibayangi ketakutan akan datangnya saat kematian.
Semoga, cerita kematian dua orang yang insya Allah husnul khatimah, dapat menjadi pelajaran bagi kita semua, khususnya diri saya pribadi. Untuk kedua almarhum, mari kita bacakan Al- fatihah. Allah A'lam. ***
Watampone, 5 Mei 2022
