Ia menuturkan, Masjid Wartawan PWI Sulawesi Selatan dahulu cukup ramai oleh jamaah, baik dari kalangan wartawan maupun masyarakat sekitar. Masjid ini juga menjadi tempat singgah bagi banyak orang untuk beribadah dan beristirahat, karena dilengkapi fasilitas seperti kamar mandi, toilet, serta pendingin ruangan yang membuat suasana di dalam masjid terasa nyaman.
“Dulu, setiap hari banyak orang datang untuk shalat, baik berjamaah maupun sendiri-sendiri. Karena lokasinya strategis, banyak pula yang singgah untuk beristirahat, bahkan sekadar berbaring melepas lelah,” tutur Asnawin.
Selain sebagai tempat ibadah, pengurus Masjid Wartawan PWI juga aktif menggelar berbagai kegiatan keagamaan, seperti pengajian rutin setiap hari Kamis serta peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
“Pengurus masjid dulu cukup aktif mengadakan kegiatan. Namun sangat disayangkan, setelah Pemprov Sulsel mengambil alih Gedung PWI Sulsel, Masjid Wartawan PWI juga dibiarkan terbengkalai,” tambahnya.
Lebih lanjut, Asnawin menjelaskan bahwa pembangunan Masjid Wartawan PWI Sulawesi Selatan diawali dengan peletakan batu pertama pada 8 Desember 2010, dan mulai dibangun secara efektif sejak 18 Maret 2011.
“Awalnya masjid ini diberi nama Masjid Nurul Yasin PWI Sulsel. Namun kemudian diganti menjadi Masjid Wartawan PWI Sulawesi Selatan. Masjid ini diresmikan oleh Gubernur Sulawesi Selatan saat itu, Syahrul Yasin Limpo, pada 21 Juni 2014, dalam rangkaian peringatan Hari Pers Nasional dan HUT ke-68 PWI tingkat Provinsi Sulawesi Selatan,” papar Asnawin.(**)
