Sebagai bagian dari masyarakat adat, ia juga mengajak seluruh pemilik hak ulayat dan masyarakat setempat untuk bersama-sama mendukung pembangunan pertanian yang sedang berjalan.
“Sebagai rekan keluarga adat pemilik hak ulayat, saya imbau untuk kita semua bergandengan tangan untuk bahu-membahu menyukseskan program ini di Kabupaten Sarmi,” ungkapnya.
Michael mengaku telah merasakan langsung manfaat bantuan alsintan yang diberikan pemerintah.
Kehadiran alat pertanian modern membuat pekerjaan yang sebelumnya dilakukan secara manual menjadi jauh lebih cepat dan efisien.
“Alat bantuan yang ada di wilayah kami sudah digunakan. Kami sendiri yang bawa dan kami duduk di atasnya, kami rasa suatu perubahan. Tadinya kami cangkul, kami coba babat dengan parang, tapi kami kalah. Hari ini kami bajak. Satu hari bisa sampai tiga hektare dengan satu alat bajak,” ucapnya.
Cetak Sawah di Papua untuk Kemandirian Pangan
Beberapa waktu lalu berkembang isu yang menyatakan bahwa di Papua pemerintah mencetak sawah baru dengan membabat hutan. Selain itu, tanah milik masyarakat diambilalih oleh pemerintah.
Padahal, sejatinya, pembukaan lahan baru untuk areal persawahan ditujukan untuk kepentingan masyarakat Papua sendiri. Agar mereka bisa menghasilkan beras sendiri yang kini telah menjadi makanan pokok sebagian masyarakat di Papua.
Dan, lahan yang digunakan tidak diambilalih oleh pemerintah. Lahan itu tetap menjadi milik masyarakat dan mereka yang mengelola sendiri. Pemerintah membantu dalam hal ketersediaan sarana produsi dan alat mesin pertanian serta memberikan penyuluhan.
Dengan adanya areal persawahan di Papua, akan tercipta kemandirian pangan. Bukan saja skala nasional, tetapi juga skala wilayah.
Kebutuhan pangan seperti beras di Papua bisa dipenuhi oleh Papua sendiri. Tidak perlu lagi mendatangkan dari daerah luar Papua.
Di Papua, harga beras per liter bisa mencapai Rp 30.000. Harganya menjadi tinggi karena biaya transportasi dari daerah lain.
Kini masyarakat Papua sudah mulai merasakan manfaat dari hadirnya sawah-sawah baru. Harga beras bisa menjadi Rp 15.000 per liter, bahkan lebih rendah lagi. (*)

