Petani Papua Sambut Program Cetak Sawah, Dari Cangkul ke Traktor Menuju Harapan Baru

Ramzy
Ramzy 29 Pembaca
5 Menit baca

Follow Pedomanrakyat.co.id untuk mendapatkan informasi terkini.

Klik WhatsApp Channel  |  Google News

PEDOMANRAKYAT, JAKARTA – Program pengembangan pertanian yang dijalankan Kementerian Pertanian (Kementan) mendapat dukungan dari petani dan masyarakat adat di Papua. Mereka menilai pembangunan sawah, bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan), serta pendampingan yang dilakukan pemerintah mulai menghadirkan perubahan nyata dalam cara bertani dan membuka harapan baru bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat di wilayah timur Indonesia.

Dukungan tersebut disampaikan petani yang hadir dalam Konsolidasi Pembangunan Pertanian Wilayah Papua 2026 di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta. Mereka berasal dari berbagai wilayah di Tanah Papua yang saat ini menjadi lokasi pengembangan pertanian, termasuk Kabupaten Sarmi di Papua dan Kabupaten Sorong Selatan di Papua Selatan.

Ketua Gapoktan Kampung Ketom Jaya, Distrik Bonggo, Kabupaten Sarmi, Michael M. Kubuan, mengatakan program pengembangan sawah yang tengah berjalan di wilayahnya memberikan optimisme baru bagi masyarakat adat pemilik hak ulayat.

Saat ini, kawasan pertanian yang sedang dikembangkan di wilayahnya mencapai 600 hektare. Menurut Michael, program tersebut diharapkan dapat membawa perubahan bagi kehidupan masyarakat dan generasi mendatang.

"Hari ini saya ke Jakarta mendengarkan langsung dari Pak Menteri. Imbauan yang jelas dan tepat bahwa kita berikan perubahan untuk generasi kita. Mudah-mudahan dengan program yang akan menjadi sawah luas 600 hektare ini bisa membawa suatu perubahan bagi saya, anak-anak saya, cucu, dan keluarga saya yang ada di sekitar itu," kata Michael usai konsolidasi bersama Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman di Kantor Pusat Kementan, Kamis (11/6/2026).

Sebagai bagian dari masyarakat adat, ia juga mengajak seluruh pemilik hak ulayat dan masyarakat setempat untuk bersama-sama mendukung pembangunan pertanian yang sedang berjalan.
"Sebagai rekan keluarga adat pemilik hak ulayat, saya imbau untuk kita semua bergandengan tangan untuk bahu-membahu menyukseskan program ini di Kabupaten Sarmi," ungkapnya.

Baca juga :  Laksanakan PKM, Tim Dosen UMI Beri Penyuluhan K3 di PLHUT Barru

Michael mengaku telah merasakan langsung manfaat bantuan alsintan yang diberikan pemerintah. Kehadiran alat pertanian modern membuat pekerjaan yang sebelumnya dilakukan secara manual menjadi jauh lebih cepat dan efisien.

"Alat bantuan yang ada di wilayah kami sudah digunakan. Kami sendiri yang bawa dan kami duduk di atasnya, kami rasa suatu perubahan. Tadinya kami cangkul, kami coba babat dengan parang, tapi kami kalah. Hari ini kami bajak. Satu hari bisa sampai tiga hektare dengan satu alat bajak," ucapnya.

Dukungan serupa disampaikan petani lokal asal Kecamatan Moswaren, Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat Daya, Yance Homer. Ia mengatakan program cetak sawah telah membuka kesempatan bagi masyarakat asli Papua untuk terlibat langsung dalam pengembangan pertanian modern.

"Kami orang Papua dulunya berkebun. Tapi karena dengan adanya program cetak sawah, maka kami beralih menjadi petani. Kami orang lokal, orang Papua juga ikut pertanian dan program ini sudah berjalan," kata Yance.

Menurutnya, masyarakat telah menyiapkan lahan untuk mendukung pengembangan pertanian yang sedang berjalan. Ia menegaskan lahan yang digunakan merupakan lahan yang sebelumnya sudah dimanfaatkan dan bukan kawasan hutan baru.

"Daripada menjadi lahan tidur, sekarang dimanfaatkan sehingga memberikan manfaat bagi masyarakat," ujarnya.

Yance berharap program tersebut terus diperkuat melalui bantuan sarana produksi, pendampingan, dan dukungan pemerintah agar produktivitas petani semakin meningkat.

"Harapan kami bantuan yang tepat terus diberikan sehingga lahan yang direncanakan bisa berhasil. Yang penting masyarakat bisa menghasilkan pangan sendiri dan tidak perlu lagi mencari beras dari jauh," harapnya.

Ia juga menilai keterlibatan masyarakat lokal dalam program pertanian menjadi salah satu faktor penting keberhasilan pembangunan pertanian di Papua. "Di situ ada didampingi dengan PPL, semua didampingi. Kami lokal sendiri juga ikut mengelola dan mengembangkan pertanian," ujarnya.

Baca juga :  Ramalan Zodiak Hari Ini 15 Januari 2025: Prediksi Keuangan, Karier, dan Asmara

Selain pengembangan sawah dan produksi padi, pemerintah juga terus mendorong pengembangan komoditas unggulan yang menjadi bagian dari budaya dan sumber penghidupan masyarakat Papua. Berbagai komoditas seperti sagu, kakao, kopi, pala, kelapa, ubi jalar, dan singkong turut menjadi fokus pengembangan untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan pendapatan petani.

Melalui pendekatan tersebut, pembangunan pertanian di Papua tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan produksi beras, tetapi juga memperkuat pangan lokal dan mengoptimalkan potensi unggulan setiap daerah. Dengan dukungan petani, masyarakat adat, pemerintah daerah, serta pendampingan penyuluh pertanian, berbagai program yang dijalankan diharapkan mampu menciptakan kemandirian pangan dan kesejahteraan yang berkelanjutan bagi masyarakat Papua. (*)

Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar
error: Content is protected !!