PEDOMANRAKYAT, MAROS — Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP) Muhammad Saleh bersama tim dosen PNUP menggelar pelatihan pembuatan pakan fermentasi berbahan limbah ampas tahu bagi anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Anggrek di Desa Moncongloe, Kabupaten Maros. Program tersebut ditujukan untuk membantu peternak itik petelur menekan biaya produksi yang selama ini banyak terserap untuk kebutuhan pakan.
Kegiatan pengabdian itu dipimpin Muhammad Saleh dengan anggota dosen Nurfiansyah, Octovianus S.R. Pasanda, Zulman Wardi, dan Rosalin. Program juga melibatkan mahasiswa Program Studi D4 Teknologi Rekayasa Kimia Berkelanjutan (TRKB) dan D3 Analisis Kimia yang berpartisipasi dalam seluruh rangkaian kegiatan.
Menurutnya, KWT Anggrek dipilih sebagai mitra karena kelompok tersebut mulai mengembangkan usaha peternakan itik petelur sebagai salah satu sumber pendapatan keluarga. Namun, kenaikan harga pakan komersial menjadi tantangan yang dihadapi para peternak. Tingginya biaya pakan bahkan membuat sebagian peternak mengurangi jumlah ternaknya dengan menjual beberapa ekor itik untuk memenuhi kebutuhan pakan harian.
Berangkat dari kondisi tersebut, kata Saleh, tim PKM PNUP menawarkan pemanfaatan limbah ampas tahu yang difermentasi menjadi pakan alternatif dengan kandungan nutrisi yang baik dan biaya produksi yang lebih rendah. Teknologi ini dinilai mudah diterapkan karena menggunakan bahan-bahan yang tersedia dan mudah diperoleh di lingkungan sekitar peternak.
Ia menerangkan, rangkaian kegiatan diawali dengan pembekalan internal tim pada 9 Juni 2026 guna menyamakan persepsi serta memastikan setiap anggota memahami tugas dan tanggung jawab sebelum pelaksanaan di lapangan.
Selanjutnya, kata dia, pada 13 Juni 2026, tim melakukan sosialisasi kepada anggota KWT Anggrek. Dalam kegiatan tersebut, peserta memperoleh penjelasan mengenai kebutuhan nutrisi itik petelur, manfaat fermentasi pakan, serta potensi limbah tahu sebagai bahan baku pakan alternatif.
Setelah sesi diskusi, peserta diajak ke lokasi kandang untuk mengikuti demonstrasi pembuatan pakan fermentasi, mulai dari proses pencampuran bahan hingga tahapan fermentasi menggunakan EM4.
Karena proses fermentasi memerlukan waktu beberapa hari untuk menghasilkan kualitas pakan yang optimal, kegiatan dilanjutkan dengan tahap pengeringan pada 18 Juni 2026. Pada tahap ini, peserta mempelajari teknik pengeringan dan penyimpanan pakan agar kualitasnya tetap terjaga sebelum diberikan kepada ternak.
Puncak kegiatan berlangsung pada 20 Juni 2026 melalui uji coba pemberian pakan fermentasi kepada itik petelur. Hasil pengamatan awal menunjukkan respons positif dari ternak. Itik mengonsumsi pakan fermentasi dengan baik dan tidak memperlihatkan perbedaan perilaku makan dibandingkan saat mengonsumsi pakan konsentrat komersial.
Selain dapat diterima oleh ternak, pakan fermentasi berbahan ampas tahu juga berpotensi menurunkan biaya pakan karena memanfaatkan bahan baku yang relatif murah dan mudah diperoleh. Kondisi tersebut membuka peluang bagi peternak untuk meningkatkan efisiensi usaha di tengah tingginya harga pakan.
Muhammad Saleh menjelaskan, keberhasilan program tidak hanya diukur dari terlaksananya pelatihan, tetapi juga dari keberlanjutan penerapan teknologi oleh masyarakat. Karena itu, tim akan terus melakukan pendampingan dan evaluasi terhadap ternak yang memperoleh pakan fermentasi.
Selama enam bulan ke depan, jelasnya lagi, tim akan memantau perkembangan kondisi itik, tingkat konsumsi pakan, kesehatan ternak, serta produktivitas telur yang dihasilkan. Hasil pemantauan tersebut akan menjadi dasar dalam menilai efektivitas penggunaan pakan fermentasi untuk mendukung usaha peternakan rakyat yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Melalui program ini, PNUP kembali menunjukkan perannya sebagai institusi pendidikan vokasi yang tidak hanya menghasilkan inovasi, tetapi juga mendorong penerapan teknologi secara nyata untuk membantu menyelesaikan persoalan yang dihadapi masyarakat, tandas Muhammad Saleh. (Hdr)

