Arfandi menambahkan, argumen panitia soal kapasitas dan keamanan memang masuk akal secara logistik. Akan tetapi, ia mengingatkan bahwa hajat besar organisasi profesi wartawan tidak boleh cuma memakai kacamata teknis, tapi juga wajib menakar aspek etika serta beban psikologis para anggotanya.
“Saat ini internal PWI Sulsel sedang didera krisis kepercayaan yang cukup akut. Oleh karena itu, tiap tahapan konferensi—termasuk penentuan lokasi—harus bisa menjamin atmosfer yang netral tanpa sekat bagi siapa pun,” imbuhnya.
Ia mengkhawatirkan, pemilihan Graha Pena Fajar akan memicu spekulasi bahwa arena sakral tersebut berada di bawah bayang-bayang pengaruh kubu tertentu, menyusul adanya relasi historis dan emosional yang kuat dari segelintir pihak terhadap gedung tersebut.
“Apabila sejak awal prosesnya sudah terindikasi tidak netral, legitimasi hasil konferensi nanti taruhannya dan rawan digugat secara terus-menerus. Padahal, misi utama PWI Sulsel saat ini adalah merajut kembali rekonsiliasi dan memulihkan martabat organisasi,” kata Arfandi dengan nada tegas.
Merespons kondisi ini, Forum Penyelamat PWI Sulsel mendesak panitia pelaksana untuk duduk bersama dan membuka keran dialog dengan seluruh elemen peserta demi mencari tempat alternatif yang lebih inklusif dan disepakati bersama.
“Napas demokrasi di tubuh organisasi harus bersumber dari proses yang bersih, transparan, serta mandiri. Tempat perhelatan konferensi seharusnya menjadi rumah bersama yang hangat bagi seluruh anggota, bukan justru memicu tafsir liar soal keberpihakan,” pungkas Arfandi. (*)
