Pulang ke Kampung, Menyemai Literasi

Ramzy 255 Pembaca
3 Menit baca

Dari “Permata Karya” hingga Lahirnya Pannyeleori Institut

Dusun Bontolebang, Desa Moncong Komba, Sabtu, 3 Januari 2026, menjadi saksi sebuah kepulangan yang bermakna.
Yayasan Pendidikan Literasi Seni Sastra Pannyeleori menggelar diskusi buku Permata Karya karya Prof. Kembong Daeng, dirangkaikan dengan launching Pannyeleori Institut—sebuah gerakan literasi yang berangkat dari kampung, kembali ke kampung, dan dipersembahkan untuk kebudayaan.

Mengusung tema “Perkuat Literasi demi Pemajuan Kebudayaan”, kegiatan ini menghadirkan para pemikir dan penggiat literasi seperti Prof. Sukardi Weda, Rusdin Tompo, Abdul Jalil Mattewakkang, dan Rosita Desriani. Diskusi dipandu Anwar Nasyaruddin, Sekretaris Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), yang menghidupkan dialog seputar perjalanan intelektual, karya sastra, dan tanggung jawab kultural seorang akademisi.

Sebelum diskusi buku, Pannyeleori Institut resmi diluncurkan. Para pegiat literasi dari Takalar dan Makassar hadir bersama tokoh masyarakat Moncong Komba, anggota DPRD Mansyur Salam, Kepala Desa Moncong Komba, serta keluarga besar Prof. Kembong Daeng. Kampung halaman itu seolah menjadi ruang temu antara masa lalu dan masa depan.

Syamsu Salewangang, Wakil Rektor IV Universitas Syekh Yusuf (USY) Al-Makassari, menyebut kehadiran Pannyeleori Institut sebagai “oase di musim kemarau.” Ia mengingatkan bahwa Moncong Komba merupakan salah satu tonggak sejarah Polongbangkeng—kampung yang menyimpan akar peradaban dan layak kembali disinari cahaya pengetahuan.
Dengan nada reflektif, Dg Gajang sapaan akrabnya menyampaikan filosofi hidup orang Makassar di perantauan.

“Orang Makassar yang berhasil di perantauan adalah mereka yang menguasai pendidikan, ekonomi, dan politik,” ujarnya.

Menurutnya, Pannyeleori Institut membuka jalan agar warga Moncong Komba membangun masa depan dengan ketajaman intelektual, bukan semata keberanian. Ia berharap kejayaan masa lalu—keulamaan dan kecendekiaan dapat diraih kembali melalui literasi.

Bagi Prof. Kembong Daeng, momen ini adalah kepulangan batin. Ia menyampaikan harapannya agar Moncong Komba kelak menjadi Kampung Wisata Budaya dan Sentra Literasi di Takalar. Dengan suara bergetar, ia mengenang peran Prof. Sukardi Weda dalam perjalanan akademiknya, sekaligus menyampaikan pesan almarhum suaminya.

“Bapakmu berpesan: kamu dari kampung, dan kembalilah ke kampung untuk membangun kampungmu,” ucapnya, sembari menyeka air mata.

Pesan itu menjadi napas dari lahirnya Pannyeleori Institut. Bukan sekadar lembaga, melainkan amanah—bahwa literasi adalah jalan pulang untuk merawat kampung, menjaga kebudayaan, dan menyemai masa depan.

Kegiatan ini turut dihadiri tokoh-tokoh literasi Makassar seperti Yudhistira Sukatanya, M. Amir Jaya, Dr. Fadli Andi Natsif, Rahman Rumaday, Dr. Azis Nojeng, Nasrullah, serta jurnalis senior Rusdi Embas. Kehadiran mereka menegaskan bahwa dari kampung kecil bernama Moncong Komba, nyala literasi bisa menjalar jauh selama ada keberanian untuk pulang dan membangun. (Ardhy M Basir)

Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Exit mobile version