Keterhubungan yang sama juga terlihat dalam hubungan antara lingkungan hidup dan keanekaragaman hayati. Berbagai spesies tumbuhan, satwa, dan mikroorganisme bergantung pada kualitas lingkungan tempat hidupnya. Ketika hutan mengalami penurunan kualitas, sumber air mengering, atau suhu lingkungan berubah secara nyata, berbagai bentuk kehidupan yang bergantung padanya ikut menghadapi tekanan. Menjaga keanekaragaman hayati pada akhirnya tidak dapat dipisahkan dari upaya menjaga lingkungan hidup yang menopangnya.
Sebaliknya, lingkungan yang sehat juga bergantung pada keberadaan berbagai organisme yang menjalankan fungsi penting bagi kehidupan. Tumbuhan menghasilkan oksigen, serangga membantu penyerbukan, hutan membantu mengatur siklus air, sementara berbagai organisme lain berperan menjaga kesuburan tanah dan keseimbangan ekosistem. Ketika keanekaragaman hayati menurun, kemampuan lingkungan untuk menjalankan fungsi tersebut ikut melemah.
Laut memperlihatkan keterhubungan itu dalam skala yang lebih luas. Selama ini laut sering dipandang sebagai ruang yang terpisah dari kehidupan di daratan. Padahal laut berperan penting dalam mengatur iklim, menyerap sebagian emisi karbon, menyediakan sumber pangan, serta menopang kehidupan jutaan manusia. Apa yang terjadi di laut akan memengaruhi kehidupan di daratan, sebagaimana apa yang terjadi di daratan pada akhirnya juga akan memengaruhi kondisi laut.
Berbagai contoh tersebut menunjukkan bahwa alam bekerja sebagai sebuah sistem yang saling terhubung. Air, tanah, hutan, sungai, pesisir, laut, tumbuhan, satwa, dan manusia tidak berdiri sendiri-sendiri. Masing-masing terhubung melalui proses-proses ekologis yang berlangsung terus-menerus, sering kali tanpa disadari.
Karena itu, ketiga peringatan internasional yang berlangsung hampir berurutan setiap tahun dapat dipahami sebagai tiga pintu masuk untuk melihat kenyataan yang sama. Keanekaragaman hayati mengingatkan pentingnya keragaman kehidupan. Lingkungan hidup mengingatkan pentingnya ruang hidup yang sehat. Laut mengingatkan bahwa seluruh sistem kehidupan di bumi terhubung melampaui batas-batas yang dibuat manusia.
Jika demikian, maka berbagai krisis yang kita saksikan saat ini mungkin tidak cukup dipahami sebagai kumpulan persoalan yang berdiri sendiri. Ada kemungkinan bahwa semuanya merupakan gejala dari sesuatu yang lebih mendasar yang sedang berlangsung dalam cara manusia berhubungan alam sekitarnya.
Ketika Manusia Menempatkan Diri di Luar Alam
Berbagai krisis ekologis yang terjadi saat ini sering dijelaskan melalui faktor-faktor yang berbeda. Perubahan iklim dikaitkan dengan emisi gas rumah kaca. Hilangnya keanekaragaman hayati dikaitkan dengan kerusakan habitat. Pencemaran lingkungan dikaitkan dengan limbah dan pola produksi yang tidak berkelanjutan. Penurunan kualitas laut dikaitkan dengan eksploitasi sumber daya dan pencemaran pesisir.
Semua penjelasan tersebut tentu penting. Namun jika diperhatikan lebih jauh, berbagai persoalan tersebut tampaknya memiliki akar yang sama. Di balik beragam bentuk kerusakan yang terlihat, terdapat cara pandang yang secara perlahan menempatkan manusia seolah-olah berada di luar sistem alam yang menopang kehidupannya.
Dalam cara pandang seperti ini, alam cenderung diperlakukan sebagai sesuatu yang berada di hadapan manusia, sehingga dapat dimanfaatkan, diubah, dikelola, atau dieksploitasi sesuai kebutuhan. Hutan dilihat terutama sebagai sumber kayu. Sungai sebagai sumber air dan energi. Laut sebagai ruang produksi dan perdagangan. Tanah sebagai aset ekonomi yang dapat menghasilkan nilai tambah.
Cara pandang tersebut bukan sepenuhnya keliru. Kemajuan peradaban manusia memang banyak ditopang oleh kemampuan memanfaatkan berbagai sumber daya alam. Persoalannya muncul ketika hubungan manusia dengan alam semakin dipahami hanya melalui logika pemanfaatan. Pada titik ini, alam perlahan kehilangan maknanya sebagai sistem kehidupan yang memungkinkan manusia hidup dan berkembang.
Padahal manusia tidak pernah benar-benar berada di luar alam. Udara yang dihirup, air yang diminum, pangan yang dikonsumsi, serta stabilitas iklim yang memungkinkan berbagai kegiatan sosial dan ekonomi berlangsung semuanya bergantung pada proses alam yang bekerja jauh melampaui kendali manusia. Bahkan berbagai kemajuan teknologi sekalipun tidak menghapus ketergantungan tersebut.
Kesadaran mengenai keterhubungan inilah yang sering kali memudar dalam berbagai diskusi pembangunan modern. Kita terbiasa berbicara tentang pertumbuhan ekonomi, penanaman modal, produktivitas, dan pembangunan infrastruktur. Semua itu penting. Namun tidak jarang perhatian terhadap landasan ekologis yang memungkinkan seluruh kegiatan tersebut berlangsung justru berada di latar belakang.
Akibatnya, berbagai kerusakan lingkungan sering diperlakukan sebagai persoalan yang muncul setelah pembangunan berlangsung, bukan sebagai bagian yang sejak awal harus diperhitungkan dalam proses pembangunan itu sendiri. Alam diposisikan sebagai variabel yang harus disesuaikan, bukan sebagai sistem yang menetapkan batas-batas tempat kehidupan manusia dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Karenanya, mungkin persoalan paling mendasar yang diingatkan oleh berbagai peringatan internasional tersebut bukanlah sekadar bagaimana memperbaiki lingkungan yang rusak. Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana manusia memahami kembali posisinya di dalam jaringan kehidupan yang lebih luas. Sebab sebelum berbicara tentang cara menjaga alam, kita terlebih dahulu perlu memahami bahwa manusia sendiri merupakan bagian dari alam yang sedang berusaha dijaga.
Menata Ulang Hubungan Manusia dan Alam
Dalam beberapa minggu terakhir, dunia kembali memperingati Hari Keanekaragaman Hayati Internasional, Hari Lingkungan Hidup Sedunia, dan Hari Laut Sedunia. Ketiga momentum tersebut hadir dengan tema dan penekanan yang berbeda. Namun jika dicermati lebih jauh, semuanya mengarah pada pengingat yang serupa bahwa kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dari sistem alam yang menopangnya.
Keanekaragaman hayati, lingkungan hidup, dan laut bukanlah tiga persoalan yang berdiri sendiri. Ketiganya merupakan bagian dari jaringan kehidupan yang saling terhubung. Ketika salah satu mengalami tekanan, dampaknya pada akhirnya akan dirasakan oleh bagian-bagian lain, termasuk oleh manusia yang bergantung padanya.
Karena itu, berbagai upaya untuk menjaga keberlanjutan tidak cukup hanya dilakukan melalui perbaikan teknis, penguatan regulasi, atau pengembangan teknologi, meskipun semuanya tetap diperlukan. Pada saat yang sama, dibutuhkan pula kesediaan untuk meninjau kembali cara manusia memandang hubungannya dengan alam. Bukan sebagai sesuatu yang berada di luar dirinya, melainkan sebagai bagian dari sistem kehidupan yang sama.
Mungkin inilah pertanyaan yang sesungguhnya tersembunyi di balik ketiga peringatan tersebut. Bukan hanya bagaimana kita menjaga alam, melainkan bagaimana kita memahami kembali posisi kita di dalamnya. Sebab cara manusia memandang alam pada akhirnya akan memengaruhi cara manusia memperlakukan alam.
Pada akhirnya, menata ulang hubungan manusia dan alam bukan semata-mata agenda lingkungan hidup. Tetapi bahkan merupakan bagian dari upaya menjaga keberlanjutan kehidupan itu sendiri. (*)

