PEDOMANRAKYAT, MAKASSAR - Di sebuah sudut hangat Kota Makassar, tepatnya di Sky One, Jalan Gunung Latimojong, suasana Minggu siang (3/5/2026) itu terasa berbeda. Arisan IKB PPSP IKIP UP putaran terakhir yang semula dirancang sebagai pertemuan rutin, justru menjelma menjadi ruang penuh makna—tempat hati saling mendekat, dan rindu yang lama tertahan akhirnya menemukan jalannya.
Mengusung tema “Merajut Silaturrahmi, Menguatkan Solidaritas, Membangun Kenangan Indah Bersama”, pertemuan ini seperti menemukan ruhnya yang paling dalam. Usai melewati momen Idul Fitri 1446 Hijriah tanpa sempat bersua, para peserta larut dalam suasana halal bihalal.
Arisan pun seketika berubah menjadi barisan salam-salaman—hangat, tulus, dan penuh keikhlasan.
Tangan-tangan yang saling berjabat bukan sekadar tradisi, tetapi simbol dari ajaran Islam tentang pentingnya silaturrahmi. Dalam setiap pelukan, terselip doa; dalam setiap senyum, ada harapan agar kebersamaan ini senantiasa diridhai.
Arisan periode ketiga resmi berakhir dengan kesan yang tak mudah dilupakan. Meski jumlah peserta tak sebanyak periode sebelumnya, justru di situlah terasa kualitas kebersamaan yang lebih dalam. Pertemuan demi pertemuan bukan hanya tentang undian, tetapi tentang menjaga ikatan yang kian menguat.
Tanpa rapat formal, tanpa perdebatan panjang, kepengurusan berjalan dengan sederhana namun penuh makna. Farida Amansyah dan Vera Padang tetap dipercaya sebagai koordinator, sementara Mardiana, Dwi Wahjurini, dan Rahma Amansyah melanjutkan amanah sebagai Pengurus Arisan. Semua diterima dengan lapang dada—sebuah cerminan keikhlasan dalam berbagi peran.
Sebagai penutup periode, para pengurus memberikan tumbler sebagai buah tangan. Sederhana, namun sarat makna—sebuah kenangan yang kelak akan mengingatkan bahwa pernah ada kebersamaan yang dirajut dengan hati.
Di tengah suasana itu, pesan dan harapan pun mengalir. Waty Ambo Ala menegaskan bahwa arisan ini bukan sekadar kegiatan sosial, tetapi menjadi jembatan silaturrahmi yang terus hidup.
Yusniati, angkatan 81, menyuarakan harapan agar setiap pertemuan diisi dengan kegiatan kerohanian—pengajian, zikir, atau tausiyah—agar kebersamaan tak hanya terasa di dunia, tetapi juga bernilai di sisi Allah.
Hasnar Wati melihat arisan sebagai denyut paling nyata dari program organisasi yang berjalan konsisten. Dari periode pertama hingga ketiga, dinamika jumlah peserta tak mengurangi esensi—bahkan di periode ketiga, meski lebih sedikit, justru aktivitasnya semakin berwarna.
Di ujung perbincangan, muncul harapan yang sederhana namun mendalam: agar para bapak juga diberi ruang untuk belajar membaca Al-Qur'an. Sebuah keinginan yang menggambarkan bahwa silaturrahmi sejati bukan hanya menguatkan hubungan antar manusia, tetapi juga mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Arisan ini mungkin tampak sederhana. Namun di dalamnya, tersimpan nilai-nilai besar—tentang ukhuwah, keikhlasan, dan harapan akan keberkahan.
Dan ketika pertemuan itu berakhir, yang tertinggal bukan sekadar kenangan, melainkan doa yang diam-diam terpanjat: semoga setiap langkah kebersamaan ini menjadi bagian dari ibadah, yang kelak berbuah kebaikan, di dunia dan di akhirat. ( Ardhy M Basir )
