Makanya, setelah ada Baznas, maka sejak itu pula dia kepingin bertemu Ketua Baznas untuk menyerahkan zakat dan tanah wakaf.
“Saya merasa sangat senang dan bergembira, bisa bertemu langsung dengan Ketua Baznas Kota Makassar- ustaz H Ashar Tamanggong. Saya sering mendengar suara beliau di radio Gamasi, khususnya mengasuh obrolan Sipakaingga. Saya juga pendengar setia radio Gamasi utamanya,” ujar pria separuh baya ini, seraya mengaku matanya tidak berfungsi sejak sepuluh tahun lalu.
H. Ashar Tamanggong mengaku terkesima melihat Tata Nyarrang menemuinya untuk menyerahkan zakat ibunya. “Saya demikian bangga. Di sisi lain, saya kaget didatangi seorang tunanetra hanya untuk menyerahkan zakat. Ini demikian luar biasa,” tuturnya.
Di bagian lain, Ketua Lembaga Dakwah NU Kota Makassar ini menyebutkan, Islam sangat menjunjung tinggi penghormatan, dan pemuliaan kepada kedua orang tua.
Penghormatan dan pemuliaan itu, bukan saja saat keduanya masih hidup, tetapi juga ketika mereka sudah meninggal. Salah satu bentuk penghormatan itu adalah berzakat, atau bersedekahlah atas nama mereka.
Mengapa ? Ya, karena, zakat yang dikeluarkan seorang anak kepada orang tua yang telah meninggal dunia, tentunya pahalanya akan sampai.
Ashar menambahkan, seluruh zakat tersebut langsung disalurkan kembali kepada kaum dhuafa yang benar-benar membutuhkan. Yakinilah pula, bahwa zakat-zakat tersebut akan tepat sasaran, seperti tersirat dalam delapan golongan atau asnaf.
Sebelumnya, Andi Asma Zulistia Ekayanti, menyerahkan zakat maal perorangan sebesar, Rp 155.700.000 (seratus lima puluh lima juta tujuh ratus ribu rupiah) kepada Baznas Kota Makassar.
Zakat atas nama Almarhumah Hj. Andi Maryam Kengkeng— ibu kandung Andi Asma Zulistia Ekayanti, atau istri H. Anis Kama—mantan Ketua Baznas Kota Makassar itu diserahkan pada Senin 31 Januari 2022. (din pattisahusiwa)
