Kelima langkah tersebut meliputi:
Explore: mengeksplorasi fenomena sains secara mendalam.
Compare: membandingkan pandangan sekular dengan perspektif tauhid.
Question: mengajukan pertanyaan kritis tentang asal-usul penciptaan.
Connect: menghubungkan temuan ilmiah dengan bukti keberadaan Allah.
Appreciate: menumbuhkan rasa syukur dan apresiasi terhadap keagungan Tuhan.
Dalam diskusi tersebut juga dibahas konsep “Trio Sekular” atau taghut modern yang dinilai sering muncul dalam teks pembelajaran, yakni alam (nature), sebab material (material causes), dan kebetulan (random chance).
Melalui pendekatan ITT, para guru diajak untuk membangun kesadaran bahwa seluruh hukum alam tetap berada dalam kendali Allah SWT, bukan berjalan secara kebetulan tanpa kehendak Sang Pencipta.
Direktur SIT Ikhtiar UNHAS, Masita Dasa, S.Sos., M.Pd.I., berharap workshop ini dapat memperkuat pemahaman guru dalam mengintegrasikan nilai-nilai tauhid dalam seluruh proses pembelajaran di sekolah.
“Kami berharap kegiatan ini dapat memberikan pemahaman kepada seluruh guru untuk mengintegrasikan nilai-nilai tauhid dalam setiap pembelajaran di sekolah, sehingga tidak ada lagi sekularisasi yang memisahkan ilmu dengan Sang Pencipta,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya menjadikan dzikir, fikir, dan syukur sebagai kerangka berpikir dalam aktivitas belajar mengajar agar guru dan siswa senantiasa terhubung dengan Allah SWT.
Menurut Masita, penerapan metode ITT diharapkan mampu menjadi fondasi kuat bagi ekosistem pendidikan di sekolah, sebagaimana perumpamaan “pohon yang baik” dalam Surah Ibrahim ayat 24, yang berakar kuat dan menghasilkan buah yang bermanfaat bagi generasi masa depan bangsa. ( Ardhy M Basir )
