Masalahnya, lanjut Yulianto, konten tersebut dikonsumsi publik secara bebas, termasuk anak-anak yang sangat mudah terpengaruh dengan ungkapan-ungkapan yang sedang viral.
Ia khawatir konten seperti itu akan berdampak pada kepribadian dan karakter anak, yang tidak lagi mengenal budaya Sulsel yang sebenarnya dengan menjunjung tinggi budaya sipakatau dan sipakalebbi.
“Beberapa konten itu kan tidak mendidik jadi harus disaring. Kalau dibiarkan akan hilang budaya sipakalebbi dan sipakainga. Orang luar mengenai Sulsel juga mengganggap budayanya tidak ada sopan santun karena melihat konten itu. Kasihan orang-orang tua kita yang dulu selalu mengajari kita sopan santun dalam berbahasa dan perilaku,” jelasnya.
Menanggapi hal tersebut, Kabid Humas IKP, Sultan Rakib mengapresiasi keresahan Pemerhati Budaya di Sulsel.
“Ini kan tidak pernah terpikir. Selama ini orang merasa bebas nilai ya melakukan uploading materi-materi padahal ada nilai-nilai yang harus dijaga. Selama ini mereka hanya menjaga siapa yang tersinggung secara personal dan secara organisasi, padahal secara kultural banyak yang bisa tersinggung,” ungkap Sultan.
Olehnya itu, menurut Sultan, memang penting dilakukan edukasi terkait konten yang akan disebar di media sosial.
Edukasi ini melibatkan lintas sektoral dan sejumlah komunitas serta pemerhati budaya.
Untuk diketahui, Organisasi Seniman Celebes Nusantara serta beberapa organisasi yang tergabung dalam Lembaga Patikala telah mengirimkan somasi kepada pembuat konten yang dianggap tidak memperhatikan nilai-nilai budaya di Sulsel.(ril)