Selain emas, di kecamatan ini terkenal dengan kain sekomandi yang mahal harganya. Terbuat dari serat-serat kayu yang kuat dan diberi warna dari getah kayu. Kain ini memiliki daya tahan yang cukup lama. Harga kain ini juga mahal.
Pada malam hari, ada acara ramah tamah dengan masyarakat setempat. Pak Atik memberikan sambutan. Tak lupa, para wartawan yang mendampingi perjalanannya dia perkenalkan.
‘’Inilah wartawan-wartawan pioner dan pertama menginjakkan kaki di Tanah Kalumpang ini,’’ seru Pak Atik Sutedja, setelah memanggil seluruh wartawan yang mendampinginya berdiri di belakangnya.
Machmoed dkk terharu juga menginjakkan kaki di tanah perawan tersebut. Pada ujung acara, Machmoed sempat membacakan sebuah puisi yang dia gubah ketika tiba di Kalumpang. Dia sendiri lupa judulnya. Tapi, intinya menggambarkan kepioneran Pak Atik Sutedja dan teman-teman wartawan, potensi daerah yang berhasil dijejaki dan jarang dikunjungi pejabat tersebut.
Ketika tiba kembali di kota Mamuju, Pak Atik Sutedja berpesan pendek. Musibah di to matowa itu tidak usah ditulis, meski para wartawan menyaksikannya dengan mata kepala sendiri.
‘’Kalau wartawan yang lihat sendiri dan menulis, siapa lagi yang mau datang ke Tanah Kalumpang yang terpencil itu,’’ pesan Pak Atik Sutedja.
Saya tidak menulis musibah itu dalam laporan perjalanannya. Tetapi dia sunglap menjadi sebuah cerita pendek yang dimuat pada rubrik cerita pendek. Dia pikir, orang yang membaca akan memahaminya sebagai sebuah cerita fiksi, bukan fakta. Tapi ternyata, Pak Atik Sutedja sempat membacanya.
‘’Saya sudah baca kisah ‘Tomatowa, tetapi dalam kolom cerita pendek,’’ kata Pak Atik ketika suatu saat bertemu saya.
Setelah ditinggalkan Pak Atik Kalumpang tak lagi terisolasi. Sudah ada jalan darat ke sana. Juga, sudah ada perusahaan tambang yang mengeksplorasi potensi emas di Kalumpang.
Suatu hari Pak Atik bertemu saya di Bandara Soekarno Hatta Cengkareng, Jakarta. Dia mau ke Makassar juga.
‘’Saya selalu bawa tulisan Anda yang berjudul ‘Emas Kalumpang, Tertua di Asia Tenggara’,’’ kata Atik Sutedja sambil tersenyum dan memperlihatkan satu map yang berisi tulisan saya itu.
Lama sekali, teman-teman wartawan putus komunikasi dengan Pak Atik. Soalnya, dia menikmati masa-masa pensiunnya di Tanah Parahiyangan, Bandung, Jawa Barat. Tak ada teman wartawan pioner Kalumpang yang tahu Pak Atik meninggal dunia beberapa tahun silam. Mereka sedih sekali, ketika Agus Sumantri (alm.), putra almarhum di Biro Humas Kantor Pemda Sulsel memberi tahu bahwa ayahnya sudah berpulang ke pangkuan Ilahi Rabbi. Inalillahi wainna ilaihi raajiun.
Dibujuk Jadi Humas
Tak hanya Abdullah Suara yang mengajak Mahmud Sallie menjadi staf Humas Pemkab Luwu, tetapi juga Drs.H. Iskandar Susilo. Itu gara-gara Machmoed tampil sebagai juara II Lomba Penulisan Koperasi dan KB se-Sulsel tahun 1984 yang dilaksanakan BKKBN Sulsel dengan Kanwil Koperasi Sulsel. Menerima tawaran itu, Sekretaris Dewan Mahasiswa UMI (1966-1969) ini lagi-lagi menolaknya.‘
’Saya mengatakan bahwa saya ini terlanjur mencintai dunia kewartawan. Sudah sulit bagi saya meninggalkan dunia yang menawarkan banyak tantangan ini,’’ begitu alasan lelaki bertubuh ceking dengan rambut tersisir rapi ini, waktu itu.
Ini sengaja dia ungkapkan guna membuktikan bahwa hanya dengan kesungguhan, niat yang luhur, dan ikhlas seseorang mampu menjadi wartawan yang sesungguhnya. Walaupun Machmoed sadar, dia bukanlah wartawan profesional atau wartawan yang hebat. Dia hanya bagian kecil dari wartawan yang belum punya arti dalam dunia kewartawanan.
Anggota PWI Cabang Sulsel sejak 1982 dan Pengurus PWI Cabang Sulsel (1999-2006) ini melihat dunia kewartawanan itu, bukan hanya sebagai profesi, melainkan juga tempat beribadah yang sangat mulia dan sangat indah untuk digeluti sepanjang seseorang selalu berpikiran jernih. Dia rasakan itu sebagai sebuah jalan hidup dari Tuhan.
Majalah Akselerasi yang sejak awal terbit sebulan sekali, sudah menjadi bagian terpenting dari perjalanan hidupnya. Itulah sebabnya dia memohon SIUPP baru untuk majalah ini pada Menteri Penerangan RI sejak tahun 1999. Di majalah itulah, hingga kini lelaki yang pernah studi banding ke Malaysia ini menjabat Pemimpin Redaksi.
Dengan jiwa kewartawanan yang tersisa, setelah berlangsung tujuh tahun majalah yang kini dia pimpin itu terbit lagi.
‘’Alhamdulillah baru empat kali majalah ini tidak terbit. Dikelola dengan uang pas-pasan,’’ imbuh pria yang memiliki warna favorit kuning muda ini.
Namun sangat disayangkan, sambung pria yang memilih lagu favorit Bengawan Solo dan Anak Kamase (lagu Makassar) ini , setelah era reformasi kondisi dunia kewartawanan menjadi sangat memprihatinkan. Citra kewartawanan terjun bebas pada lembah yang sangat menyedihkan. Dunia kewartawanan yang semula sangat dihargai dan dihormati itu kini menjadi bagaikan sampah. Orang-orang akhirnya mulai menempatkan wartawan sebagai pemulung lantaran banyak oknum wartawan pasca era reformasi yang menyalahgunakan profesinya.
Persaingan antara yang professional dengan yang tidak profesional terlalu keras, ditambah semakin sulitnya mencari tenaga wartawan berkualitas yang mau bergabung dengan penerbitan kecil seperti yang Machmoed pimpin saat ini. Sebagai orang yang sejak kecil bercita-cita menjadi wartawan dan dengan ikhlas menjalankan kegiatan itu lebih dari 34 tahun, wartawan yang senang ubi goreng dan ‘sarabba’ ini, sangat sedih melihat dunia kewartawanan saat ini yang selalu dicemohkan di mata masyarakat.
‘’Lalu akankah dunia kewartawanan tercinta ini bisa kembali menemukan jatidirinya, punya citra, dan dihargai di tengah perjalanan dunia yang sedang mengglobalisasi?,’’ pria yang senang melakukan perjalanan ini bertanya mengunci komentarnya. Dan, fisik senior yang satu tidak akan pernah kita jumpai lagi. Selamat jalan…..Senior! (Habis).