Di sela-sela suapan, cerita lama mengalir. Tentang masa belajar, tentang idealisme muda, tentang jalan hidup yang kini berbeda-beda. Ada tawa yang meledak tiba-tiba, ada jeda hening ketika nama sahabat yang telah tiada disebutkan. Pada momen seperti itu, silaturahmi menjelma doa—diam-diam, dalam hati masing-masing.
All You Can Eat bukan tentang makan sebanyak-banyaknya. Ia tentang kebebasan memilih, tentang menikmati tanpa rasa takut kekurangan. Begitu pula silaturahmi. Ia memberi ruang bagi setiap orang untuk hadir apa adanya, membawa cerita dan luka masing-masing, tanpa harus merasa lebih atau kurang.
Siang itu, yang benar-benar mengenyangkan bukan hanya perut, melainkan jiwa. Sebab manusia sesungguhnya lapar akan perjumpaan, akan didengar, akan diingat. Dan di meja makan yang sama, di awal tahun yang baru ( 2026 ), mereka menemukan kembali rasa cukup itu.
Ketika acara usai, para hadirin pulang dengan langkah yang lebih ringan. Bukan karena hidangan yang melimpah, melainkan karena silaturahmi telah kembali mengingatkan: bahwa hidup, seperti jamuan, akan terasa nikmat bila dijalani bersama—dengan syukur, dengan kebersamaan, dan dengan niat baik. ( Ardhy M Basir )

